SENGKUNI PINGIN JADI RATU Tahta Kursi Ketua Partai Sangat Menggoda
SUARA REDAKSI
SENGKUNI PINGIN JADI RATU
Tahta Kursi Ketua Partai Sangat Menggoda
Ada orang yang ingin memimpin karena merasa mampu membawa perubahan. Namun, ada pula yang mengincar kekuasaan karena tergoda oleh empuknya kursi dan besarnya kewenangan. Ketika ambisi pribadi mulai mengalahkan kepentingan organisasi, perebutan jabatan bukan lagi sekadar kontestasi politik, melainkan awal dari sebuah kehancuran.
Sengkuni, dalam kisah pewayangan Mahabharata, dikenal sebagai sosok licik yang piawai memainkan intrik, mengadu domba, dan merancang siasat demi kepentingan kekuasaan. Dalam panggung politik, karakter semacam ini bisa menjadi metafora bagi siapa pun yang lebih sibuk mengatur strategi menjatuhkan lawan daripada menyiapkan gagasan untuk membesarkan partai.
Kini, bayangkan ketika Sengkuni mulai memandang sebuah singgasana yang lebih tinggi: kursi Ketua Partai. Tak lagi puas dengan keadaan dan posisi yang dimilikinya, ia mulai berangan-angan duduk di puncak kekuasaan organisasi. Dalam imajinasinya, jabatan itu seolah-olah menjadikannya ratu sejagat—semua orang harus tunduk, semua keputusan harus mengikuti kehendaknya, dan setiap kader wajib berbaris di belakang titahnya.
Bagi Sengkuni, kursi ketua bukan sekadar amanah untuk membesarkan partai. Kursi itu tampak seperti mahkota yang bisa mengangkat dirinya menjadi penguasa atas seluruh isi rumah politiknya sendiri.
Maka dimulailah berbagai manuver. Ia menghimpun para kurcaci politik, mengumpulkan orang-orang yang dianggap bisa menjadi penopang ambisinya, lalu membangun lingkaran pendukung yang siap memberikan tepuk tangan setiap kali ia berbicara. Di hadapan kelompoknya, Sengkuni tampil bak seorang ratu yang merasa seluruh kekuatan partai akan bergerak sesuai perintahnya.
Namun, politik bukan panggung sandiwara yang seluruh pemainnya bisa diatur dengan satu aba-aba. Di balik senyum dan pujian para pendukung, ada kader-kader yang masih memiliki akal sehat, harga diri, dan kemampuan menilai mana pemimpin yang sungguh-sungguh berjuang untuk partai dan mana yang sekadar sedang membangun jalan menuju singgasana.
Ketika ambisi semakin membesar, cara-cara yang ditempuh pun mulai dipertanyakan. Lawan yang dipandang berpotensi menjadi pesaing diduga menjadi sasaran tekanan dan teror politik. Kader-kader yang memiliki kapasitas dan peluang memimpin justru diposisikan sebagai ancaman yang harus dilemahkan. Alih-alih beradu gagasan, yang dimainkan adalah strategi menyingkirkan pesaing sebelum pertarungan benar-benar dimulai.
Lebih berbahaya lagi apabila politik adu domba mulai dijadikan senjata. Kader dipertentangkan dengan kader, kelompok diadu dengan kelompok, dan persahabatan politik dirusak demi memastikan tidak ada kekuatan lain yang tumbuh lebih besar daripada dirinya.
Inilah paradoks seorang pemburu kekuasaan: ia mengaku ingin membesarkan partai, tetapi tindakannya justru berpotensi mengecilkan partai menjadi sekadar kendaraan ambisi pribadi.
Sengkuni mungkin merasa setiap langkahnya adalah kecerdikan. Ia menganggap setiap lawan yang tersingkir sebagai kemenangan, setiap dukungan yang terkumpul sebagai bukti kekuatan, dan setiap bisikan yang berhasil memecah barisan sebagai keberhasilan strategi.
Padahal, politik memiliki ingatan panjang. Kader yang hari ini diam belum tentu setuju. Mereka yang sekarang tersenyum belum tentu percaya. Bahkan, orang-orang yang hari ini berdiri di belakangnya bisa saja menjadi pihak pertama yang meninggalkannya ketika menyadari bahwa mereka hanya diperlakukan sebagai alat untuk mencapai kekuasaan.
Sengkuni perlu memahami satu hal: dukungan yang lahir dari ketakutan berbeda dengan dukungan yang tumbuh dari kepercayaan. Yang pertama mungkin membuat orang tunduk untuk sementara, tetapi yang kedua membuat mereka bersedia berjuang bersama dalam keadaan sulit.
Kursi Ketua Partai memang menggoda. Di sana ada kewenangan, pengaruh, kehormatan, dan peluang menentukan arah organisasi. Namun, semakin tinggi jabatan yang diincar, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul. Ketua partai bukan ratu yang berhak memerintah sesuka hati. Ia adalah pemimpin yang harus mampu merangkul perbedaan, menjaga soliditas kader, membangun kepercayaan publik, dan memastikan partai tetap berdiri di atas kepentingan bersama.
Jika sejak proses menuju kursi ketua saja seseorang sudah gemar memecah belah, menekan pesaing, dan membangun kekuasaan melalui intrik, publik dan kader patut bertanya: bagaimana nasib partai ketika seluruh kendali benar-benar berada di tangannya?
Jangan sampai kemenangan dalam perebutan kursi justru menjadi kekalahan bagi organisasi. Jangan sampai pesta kemenangan di lingkaran elite berubah menjadi awal kepergian kader-kader di akar rumput. Sebab, partai tidak hidup dari tepuk tangan segelintir pendukung, melainkan dari kerja kolektif, loyalitas yang sehat, dan kepercayaan masyarakat.
Pada akhirnya, seorang pemburu takhta bisa saja berhasil duduk di singgasana. Namun, duduk di kursi ketua tidak otomatis menjadikannya pemimpin yang dihormati. Jabatan bisa diperoleh melalui berbagai jalan, tetapi kewibawaan hanya tumbuh dari integritas, kemampuan, dan keteladanan.
Jika ambisi Sengkuni dibiarkan mengalahkan akal sehat organisasi, jangan salahkan akar rumput ketika perlahan menjauh. Jangan salahkan kader ketika kehilangan kepercayaan. Dan jangan terkejut jika partai yang ingin dikuasainya justru menjadi korban dari ambisinya sendiri.
Sebab, dalam politik, musuh terbesar sebuah partai tidak selalu datang dari lawan di luar pagar. Terkadang, ancaman paling serius justru tumbuh dari dalam rumah sendiri—dari mereka yang mengaku ingin menyelamatkan organisasi, tetapi diam-diam sibuk menghitung jalan menuju singgasana.
Sengkuni boleh bermimpi menjadi ratu. Namun, partai bukan kerajaan pribadinya, kader bukan para kurcaci yang harus tunduk, dan kursi Ketua Partai bukan mahkota untuk memuaskan ambisi seseorang.
Ingat, singgasana yang dibangun di atas perpecahan mungkin terlihat megah saat pertama kali diduduki. Tetapi ketika kepercayaan runtuh dan akar rumput pergi, yang tersisa hanyalah seorang penguasa yang duduk sendirian di atas puing-puing kekuasaannya sendiri.
Red


