BREAKING NEWS
Kredit Perdagangan Bank Kuningan Daftar Angsuran Kredit Bank Kuningan

Setiawan Djody: Bangsawan Solo yang Mengusik Publik Internasional.

 


Setiawan Djody: Bangsawan Solo yang Mengusik Publik Internasional.


Bayangkan seorang pria yang bisa sarapan santai bersama Mick Jagger, main gitar dengan David Bowie di Tawangmangu, menjamu Metallica di rumahnya di Jakarta, lalu keesokan harinya duduk berunding soal saham telekomunikasi senilai belasan triliun rupiah. Itulah Setiawan Djody—pengusaha, musisi, sekaligus keturunan ningrat Surakarta yang perjalanan hidupnya terasa seperti gabungan antara novel petualangan dan catatan sejarah musik Indonesia.


Darah Bangsawan, Jiwa Pemberontak


Lahir di Surakarta pada 13 Maret 1949 dengan nama lengkap K.P.H. Salahuddin Setiawan Djodi Nur Hadiningrat, Djody sebenarnya keturunan darah biru Keraton Surakarta. Kakeknya bukan orang sembarangan: dr. Wahidin Soedirohoesodo, pendiri Budi Oetomo dan salah satu tokoh penggerak Kebangkitan Nasional. Namun alih-alih hidup dalam batasan protokol kebangsawanan, Djody memilih jalan yang jauh lebih liar—menembus dunia bisnis internasional sekaligus menjadi motor di balik musik rock paling bergigi di Indonesia.


Pendidikannya pun kelas dunia: lulusan Wharton pada 1974, dilanjutkan program magister filsafat di University of California. Kombinasi latar belakang aristokrat, pendidikan Barat, dan naluri bisnis inilah yang kelak membuka pintu ke lingkaran sosial paling eksklusif di dunia.


Dalang di Balik Panggung-Panggung Legendaris


Lewat bendera AIRO, Djody bukan cuma menjadi produser, tapi arsitek dari beberapa momen paling monumental dalam sejarah musik Indonesia. Album SWAMI (1989, 1991), Mata Dewa dari Iwan Fals, hingga Kantata Takwa yang menggetarkan stadion—semuanya lahir dari visinya bahwa musik bisa menjadi kendaraan protes sosial, bukan sekadar hiburan.


Ambisinya tak berhenti di dalam negeri. AIRO mendatangkan nama-nama besar dunia ke Indonesia: Yngwie Malmsteen, Europe, Sepultura, hingga konser Metallica 1993 yang sampai sekarang dikenang sebagai salah satu konser paling ricuh sekaligus bersejarah di tanah air.


Persahabatan dengan Para Rock Star Dunia


Bagian paling mengejutkan dari kisah Djody mungkin bukan soal bisnis, melainkan lingkaran pertemanannya. Ia mengaku dekat dengan David Bowie, yang pernah singgah ke Solo dan Jakarta di sela tur Serious Moonlight-nya, bahkan sempat berkunjung ke Keraton Surakarta bersama Iggy Pop. Bono dari U2 disebutnya pernah menghabiskan waktu cukup lama di Ubud, sementara Iggy Pop bahkan pernah menumpang tidur di rumahnya di Solo—sesuatu yang sengaja ia rahasiakan dari media demi menjaga privasi tamu-tamunya.


Koneksinya melampaui dunia musik. Ia mengaku mengenal secara personal tokoh-tokoh kelas dunia seperti mantan Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger, Senator Barry Goldwater, hingga anggota keluarga Rockefeller. Pertemanannya dengan Mark Shand (adik Camilla, istri Pangeran Charles) dan Lord Robin Teverson dari lingkaran kerajaan Inggris bahkan menjadi salah satu pemicu kepeduliannya terhadap isu lingkungan—jauh sebelum topik pemanasan global menjadi pembicaraan global lewat kampanye Al Gore.


Dari Gitar ke Lamborghini


Kalau dunia musik dan pergaulan elite belum cukup, Djody juga sempat mencatatkan nama di industri otomotif super mewah. Bersama Tommy Soeharto lewat konsorsium MegaTech Ltd., ia mengakuisisi Lamborghini dari Chrysler pada 1994 senilai sekitar 40 juta dolar AS, menjabat sebagai chairman hingga akhirnya pabrikan legendaris Italia itu dijual ke Volkswagen Group pada 1998. Di periode yang sama, ia juga memegang saham signifikan di Vector Aeromotive, produsen supercar asal Amerika yang melahirkan Vector M12 bermesin Lamborghini Diablo V12.


Musik sebagai Bahasa Politik yang Independen


Meski dekat dengan lingkaran kekuasaan sejak era Soeharto hingga era SBY—bahkan sempat menggunakan puisi karya SBY sebagai lirik lagu—Djody selalu menegaskan bahwa jalur bermusiknya tetap independen dan lintas kepentingan politik. Prinsip itu sudah ia pegang sejak era Kantata Takwa dengan lagu-lagu kritis seperti "Bento" dan "Bongkar", dan ia menolak keras jika karyanya dipakai untuk kepentingan politik praktis siapa pun.


Warisan yang Rumit tapi Berpengaruh


Perjalanan hidup Djody bukan tanpa drama. Perceraiannya dengan aktris Sandy Harun diwarnai kontroversi publik, termasuk isu keterlibatan nama Tommy Soeharto yang sempat menyeret dirinya ke pemeriksaan kepolisian. Namun terlepas dari sisi personal yang penuh gejolak, pengaruh Djody terhadap lanskap musik, bisnis, dan bahkan diplomasi budaya Indonesia sulit dibantah.


Ia adalah figur langka: bangsawan Jawa yang menjadi pengusaha global, produser musik yang menjadi sahabat rock star dunia, sekaligus pemain di industri supercar internasional—semuanya dijalani dengan gaya khasnya sendiri, santai namun penuh perhitungan, seperti falsafah Jawa yang sering ia ucapkan: sabar, mengalah, dan menunggu momen yang tepat.


 (Koko Heri) / Red


Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image