Kegiatan PPM Santri " Kehadiran para santri mendapat sambutan hangat dari masyarakat Desa Pengarasan."
Kegiatan PPM Santri " Kehadiran para santri mendapat sambutan hangat dari masyarakat Desa Pengarasan."
Berebes Aktualid.com Pondok Pesantren Al-Ikhlas Jambar di Desa Pengarasan
Brebes – Pondok Pesantren Al-Ikhlas Jambar, Kecamatan Nusaherang, Kabupaten Kuningan melaksanakan kegiatan PPM (Praktek Pengabdian Masyarakat) di Desa Pengarasan, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes. Kegiatan ini diikuti oleh 87 santri, terdiri dari 55 santri putra (banin) dan 32 santri putri (banat), yang berlangsung selama 7 hari, mulai Selasa, 4 Maret hingga 10 Maret.
Kegiatan PPM tahun ini dipusatkan di Desa Pengarasan setelah melalui berbagai pertimbangan dari pihak pesantren. Menurut Kepala Madrasah Diniyah Al-Ikhlas Jambar, Ust. Bachir Pamungkas, S.H., desa tersebut dipilih karena memiliki wilayah yang luas serta jumlah penduduk yang cukup besar.
“Desa ini merupakan salah satu desa yang cukup besar dengan jumlah penduduk yang banyak.
Hal ini menjadi pertimbangan agar para santri dapat belajar hidup di tengah masyarakat yang heterogen serta mampu mengabdikan dan mengaplikasikan ilmu yang telah mereka peroleh selama mondok,” ujarnya.
Selama pelaksanaan PPM, para santri menjalankan berbagai program keagamaan dan sosial. Setiap hari para santri diwajibkan hadir minimal 10 menit sebelum waktu shalat di masjid dan mushola untuk melaksanakan shalat berjamaah lima waktu, tadarus Al-Qur’an, kultum atau kulsub, serta siap menjadi imam shalat apabila diberi kesempatan.
Selain itu, kegiatan juga diisi dengan pembacaan ratib dan Hizib At-Tabsyir sekitar 20 menit menjelang adzan Maghrib, tadarus menjelang berbuka puasa, serta aktivitas keagamaan lainnya seperti shalat tarawih dan doa kamilin.
Tidak hanya kegiatan ibadah, para santri juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Di antaranya membersihkan masjid dan mushola, bakti sosial kerja bakti membersihkan lingkungan desa, ziarah kubur ke makam para sesepuh desa, serta membantu mengajar di lembaga pendidikan dasar. Para santri juga berbaur dengan masyarakat melalui kegiatan bersama karang taruna, majelis taklim ibu-ibu, hingga turut hadir dalam kegiatan kemasyarakatan seperti takziah, ikut menyolatkan jenazah, mengantar hingga pemakaman, serta mengikuti tahlilan.
Kehadiran para santri mendapat sambutan hangat dari masyarakat Desa Pengarasan. Kepala Desa Pengarasan, Ahmad Niron, menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan dampak positif bagi kehidupan keagamaan masyarakat, terlebih karena berlangsung pada bulan suci Ramadan.
“Warga kami menjadi lebih semangat dalam melaksanakan ibadah, terutama shalat lima waktu. Mushola yang tadinya agak sepi kini kembali ramai, bahkan yang sudah ramai menjadi semakin hidup dengan kehadiran para santri,” ungkapnya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Ketua Takmir Masjid Jami Nahdlotul Muslimin, K.H. Manan, S.Pd.I. Ia mengaku kagum dengan kemampuan para santri, khususnya dalam membaca Al-Qur’an.
“Bacaan Al-Qur’an para santri sangat baik dan fasih, baik dari segi makharijul huruf, tajwid maupun lagamnya. Karena itu banyak mushola yang menyerahkan imam shalat, termasuk tarawih, kepada para santri,” tuturnya.
Kekaguman juga datang dari tokoh masyarakat lainnya. Ustadz Fauzan, salah satu ulama yang dituakan di wilayah Blok Ketos, mengungkapkan bahwa masyarakat sangat terkesan dengan kemampuan para santri ketika menyampaikan kultum maupun kulsub.
“Ketika membahas suatu hukum, para santri menyampaikannya lengkap dengan rujukan kitab, ayat Al-Qur’an, hadits, serta kisah-kisah yang relevan dengan kehidupan sekarang sehingga mudah dipahami oleh masyarakat,” katanya.
Antusiasme masyarakat juga terlihat dari kunjungan warga ke posko santri. Salah satunya Sobirin, yang mengaku merasa yakin dengan kesesuaian amalan yang diajarkan di Pondok Pesantren Al-Ikhlas dengan amalan masyarakat setempat.
“Bacaan wirid setelah shalat tidak jauh berbeda dengan yang biasa kami amalkan.
InsyaAllah anak saya akan saya pondokkan dan sekolah di Al-Ikhlas Jambar,” ujarnya.
Dalam kegiatan peringatan Nuzulul Qur’an yang dipusatkan di Masjid Jami Cogreg, masyarakat juga dibuat kagum dengan kreativitas para santri dalam mengemas acara. K. Afif, selaku takmir masjid, menyampaikan apresiasinya atas kekompakan dan kreativitas santri dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut.
“Inilah santri sejati. Bukan hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujarnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Pengarasan K. Makto Efendi, S.Pd.I. menyebut kedatangan santri Al-Ikhlas sebagai sebuah anugerah bagi desa.
“Ghirah masyarakat dalam beribadah meningkat, terutama menjelang Maghrib, Isya, hingga Subuh. Kami berharap semangat ini terus berlanjut meskipun para santri nanti telah kembali ke pesantren,” katanya.
Acara penutupan kegiatan PPM dilaksanakan dengan meriah di Lapangan Voli Kemantren Desa Pengarasan dan dihadiri oleh masyarakat yang memadati lokasi. Malam harinya dilanjutkan dengan pengajian umum yang disampaikan oleh K.H. Wridin, Lc., M.Pd.I, pengajar Pondok Pesantren Al-Ikhlas sekaligus Kepala MA Al-Ikhlas Jambar.
Dalam sambutannya, Ketua YPAI Al-Ikhlas Jambar, Ust. Anthony, S.Pd.I, menyampaikan rasa terima kasih kepada masyarakat Desa Pengarasan atas sambutan hangat yang diberikan kepada para santri.
“Mohon maaf apabila selama kegiatan kami ada hal yang kurang berkenan. Semoga kedatangan kami memberikan pengalaman berharga bagi para santri dan semoga silaturahmi antara Pondok Pesantren Al-Ikhlas Jambar dengan masyarakat Desa Pengarasan terus terjalin di masa mendatang,” ujarnya.
Perpisahan antara santri dan masyarakat pun berlangsung haru. Banyak warga yang merasa sedih ketika para santri berpamitan di masjid dan mushola tempat mereka beraktivitas selama sepekan. Bahkan beberapa warga terlihat menitikkan air mata saat melepas kepulangan para santri.
Kegiatan PPM ini tidak hanya meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat Desa Pengarasan, tetapi juga menjadi pengalaman berharga bagi para santri yang merasakan langsung kehidupan bermasyarakat serta sambutan hangat dari warga setempat. Kehadiran mereka selama satu pekan dinilai mampu menghidupkan kembali semangat ibadah dan kebersamaan di tengah masyarakat.
Idung




