BREAKING NEWS
Kredit Perdagangan Bank Kuningan Daftar Angsuran Kredit Bank Kuningan

Mi'raj Kesadaran: Ketika Tubuh, Akal, dan Qolbu Berserah

 RUANG QOLBU REDAKSI 



Mi'raj Kesadaran: Ketika Tubuh, Akal, dan Qolbu Berserah


Catatan Qolbu dari REDAKSI

OLEH : Irman Syamsul Bahri 


Ada perjalanan yang tidak ditempuh dengan kaki, tidak diukur oleh jarak, dan tidak ditentukan oleh ruang. Ia adalah perjalanan ke dalam diri,perjalanan kesadaran seorang hamba untuk mengenali siapa dirinya dan kepada siapa seluruh keberadaannya bergantung.


Tubuh adalah kendaraan. Akal adalah penunjuk arah. Qolbu adalah tempat seseorang merasakan makna perjalanan itu.


Ketiganya harus selaras dalam beribadah.


Tubuh beribadah ketika setiap geraknya digunakan untuk kebaikan. Akal beribadah ketika pikirannya tunduk kepada kebenaran. Dan qolbu beribadah ketika ia mampu melepaskan kesombongan, keakuan, serta kepentingan diri di hadapan Allah.


Semakin dalam kesadaran seseorang, semakin ia memahami makna Al-Malik. Bahwa dirinya bukan pemilik mutlak atas tubuh, kehidupan, waktu, maupun kekuatan yang dimilikinya. Semua berada dalam kerajaan dan kehendak Allah.


Ia kemudian mengenal Allah sebagai Ilah. Kesadarannya mulai bertanya: kepada siapa sebenarnya hati ini tunduk? Apa yang selama ini menjadi pusat penghambaan? Ketika ego, ambisi, harta, kedudukan, bahkan penilaian manusia mulai mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Allah, di sanalah manusia perlu kembali meluruskan arah pengabdiannya.


Kemudian ia mengenal Allah sebagai Rabb,Sang Pemelihara dan Pendidik.


Setiap pengalaman hidup tidak lagi semata-mata dilihat sebagai kejadian, tetapi sebagai ruang pendidikan dari Allah. Kebahagiaan mengajarkan syukur. Kesulitan mengajarkan kesabaran. Kehilangan mengajarkan kefanaan. Kesalahan mengajarkan kerendahan hati.


Di sinilah kasyaf dapat dipahami sebagai terbukanya kesadaran batin terhadap makna, tanda-tanda, dan pelajaran yang sebelumnya tertutup oleh ego,bukan sebagai klaim bahwa manusia melihat atau menyatu dengan Dzat Allah.


Ketika tabir ego semakin tipis, seorang hamba semakin mampu menyadari bahwa setiap kemampuan yang dimilikinya adalah amanah. Akalnya dipakai untuk mencari kebenaran. Qolbunya digunakan untuk menghayati kebenaran. Dan tubuhnya menjadi alat untuk menghadirkan kebenaran itu dalam kehidupan.


Maka ilmu tidak berhenti di kepala. Ia turun menjadi kesadaran. Kesadaran turun menjadi sikap. Sikap menjelma menjadi amal.


Itulah mi'raj kesadaran.


Bukan manusia yang naik menjadi Tuhan, tetapi seorang hamba yang naik dalam kedalaman pengenalan, ketundukan, keikhlasan, dan kedekatan kepada Allah.


Pada titik itu, ibadah tidak lagi sekadar sesuatu yang dilakukan karena kewajiban. Ia menjadi kebutuhan jiwa. Kebaikan tidak lagi dilakukan demi pujian. Ia dilakukan karena qolbu telah mengenal nilai kebenaran.


Dan mungkin, puncak perjalanan itu bukan ketika seseorang merasa telah mencapai sesuatu, melainkan ketika ia semakin sadar bahwa dirinya hanyalah seorang hamba.


Semakin mengenal Allah, semakin rendah hati ia berjalan.


Semakin dekat kepada-Nya, semakin hilang keakuannya.


Semakin dalam ilmunya, semakin lembut akhlaknya.


Sebab tanda perjalanan spiritual bukanlah merasa lebih tinggi daripada manusia lain, tetapi semakin mampu menghadirkan kebenaran, kasih sayang, keikhlasan, dan kebaikan di tengah kehidupan.


Mi'raj sejati adalah ketika akal mengenal kebenaran, qolbu menghayatinya, tubuh mengamalkannya, dan seluruh diri berserah kepada Allah.



Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image