BREAKING NEWS
Kredit Perdagangan Bank Kuningan Daftar Angsuran Kredit Bank Kuningan

Kiai Hasan di Hadapan Presiden: Pendidikan, Sejarah dan Pentingnya Mengingatkan

 BERITA NASIONAL



Kiai Hasan di Hadapan Presiden: Pendidikan, Sejarah dan Pentingnya Mengingatkan


PONOROGO —Aktualid.com Beginilah semestinya ulama hadir di hadapan penguasa: bukan untuk mencari muka, melainkan untuk menyampaikan pesan yang mungkin tidak selalu nyaman didengar.


Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, berdiri di hadapan Presiden Prabowo Subianto dalam peringatan 100 Tahun Gontor, Sabtu, 19 September 2026.


Dengan nada ringan, ia membuka pesannya:


«“Maaf ya Pak Presiden, saya ngomong tidak enak. Sorry ye!”»


Lalu pesannya mengarah pada pilihan yang dianggap penting bagi Gontor:


«“Kami tetap memilih pendidikan.”»


Disusul sebuah pengingat:


«“Jangan sekali-kali lupakan sejarah. Bergurulah pada sejarah!”»


Pesan itu sederhana. Tetapi dalam konteks hubungan antara pendidikan, masyarakat dan kekuasaan, maknanya jauh lebih luas.


Pendidikan tidak semata-mata menghasilkan orang berijazah. Ia juga seharusnya membentuk manusia yang mampu berpikir, membaca sejarah, mempertanyakan keadaan, dan memahami konsekuensi sebuah keputusan.


Karena itu, ketika Gontor menyatakan:


«“Gontor tidak puas!”»


kalimat tersebut dapat dibaca sebagai dorongan agar pendidikan tidak berhenti pada pencapaian yang sudah ada.


Sebab lembaga pendidikan tidak hanya bertugas membuat manusia pintar.


Ia juga bertugas membuat manusia berani berpikir.


Begitu pula ulama.


Ulama tidak harus menjadi pengeras suara kekuasaan. Tetapi bukan pula berarti setiap kritik harus diposisikan sebagai permusuhan.


Justru dalam kehidupan bernegara, suara yang mengingatkan dapat menjadi bagian penting dari keseimbangan.


Presiden boleh datang ke pesantren.


Pejabat boleh duduk di barisan terdepan.


Namun, ruang pendidikan tetap harus menjadi tempat di mana akal sehat, sejarah dan moral dapat berbicara.


Sebab kekuasaan tidak hanya membutuhkan dukungan.


Kekuasaan juga membutuhkan kritik yang jujur.


Jika semua orang di sekitar penguasa hanya mengatakan, “Siap, Pak”, “Aman, Pak”, atau “Luar biasa, Pak”, siapa yang akan mengatakan ketika ada sesuatu yang perlu diperbaiki?


Di sinilah independensi lembaga pendidikan dan ulama menjadi penting.


Mengkritik penguasa bukan otomatis berarti membenci penguasa.


Sebaliknya, menyampaikan peringatan dengan jujur dapat menjadi bagian dari tanggung jawab moral kepada masyarakat.


Kiai tidak harus membungkuk kepada jabatan.


Yang harus menjadi tempat kita menundukkan kepala adalah kebenaran.


Dan mungkin itulah pesan yang tersisa dari panggung 100 Tahun Gontor:


kekuasaan boleh berganti, zaman boleh berubah, tetapi pendidikan, sejarah dan suara moral tetap diperlukan untuk mengingatkan siapa pun yang sedang memegang kekuasaan.

Irman



Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image