BREAKING NEWS
Kredit Perdagangan Bank Kuningan Daftar Angsuran Kredit Bank Kuningan

PULAU TIKUS dulu menjadi Destinasi Wisata Favorit kini Bernasib KRITIS

 





PULAU TIKUS dulu menjadi Destinasi Wisata Favorit kini Bernasib KRITIS


BENGKULU,Aktualid.com Kondisi Pulau Tikus, salah satu pulau terluar sekaligus terdekat dari daratan Kota Bengkulu, kini berada di titik paling kritis. Pulau yang dulunya menjadi destinasi wisata favorit dan pelindung alami pelabuhan serta pesisir Bengkulu dari hantaman ombak Samudra Hindia ini, kini nyaris hilang dari peta akibat abrasi ekstrem yang dibiarkan tanpa penanganan.


​Berikut adalah laporan mendalam mengenai kondisi terkini Pulau Tikus per 16 Juli 2026, yang kian sekarat akibat minimnya kepedulian dari pihak berwenang.

​Menyusut Drastis, Hanya Tersisa Sedikit Daratan

​Pulau Tikus yang beberapa dekade lalu memiliki luas daratan mencapai lebih dari 2 hektare, kini kondisinya sangat memprihatinkan. Saat pasang tinggi, pulau ini hampir tenggelam sepenuhnya dan hanya menyisakan bangunan mercusuar tua serta sedikit gundukan pasir yang mencuat ke permukaan.


​Proses abrasi yang agresif ditambah dengan kenaikan permukaan air laut global dituding sebagai penyebab utama hilangnya daratan pulau ini secara eksponensial. Namun, yang paling mempercepat kehancuran pulau ini bukanlah alam semata, melainkan sikap abai dan pembiaran dari pemangku kebijakan.



​Mengapa Pulau Tikus Sangat Penting?


​Keberadaan Pulau Tikus bukan sekadar tentang estetika wisata, melainkan memiliki fungsi ekologis dan geografis yang vital:

​Benteng Alami: Menahan gelombang besar dari Samudra Hindia sebelum mencapai Pantai Panjang dan Pelabuhan Pulau Baai.

​Habitat Penyu: Menjadi lokasi penting bagi penyu hijau dan penyu sisik untuk bertelur.


​Sistem Terumbu Karang: Rumah bagi biota laut yang menjaga keseimbangan ekosistem pesisir Bengkulu.

​Nyata Tanpa Aksi: Rapor Merah Perhatian Pemerintah

​Meskipun jaraknya sangat dekat—hanya sekitar 10 km atau 30 menit penyeberangan dari pusat pemerintahan Provinsi Bengkulu—nasib Pulau Tikus seolah dianaktirikan. Hingga saat ini, tidak ada satu pun program penyelamatan berskala besar atau anggaran khusus yang dikucurkan secara konsisten oleh pemerintah daerah maupun pusat untuk menahan laju abrasi di pulau ini.


​Beberapa poin yang disoroti oleh publik dan pengamat lingkungan terkait ketidakpedulian pemerintah antara lain:

​Saling Lempar Tanggung Jawab: Penyelamatan pulau ini kerap terbentur birokrasi, di mana pemerintah daerah sering berdalih bahwa kewenangan pengelolaan pulau terluar dan kawasan konservasi berada di bawah kementerian pusat, sementara pemerintah pusat menilai inisiatif awal harusnya datang dari daerah.

​Hanya Sebatas Wacana dan Seremonial: Rencana besar seperti proyek reklamasi, pembangunan tanggul pemecah gelombang (breakwater), hingga penanaman terumbu karang buatan hanya berakhir di atas meja rapat dan dokumen perencanaan. Aksi di lapangan sering kali hanya bersifat seremonial seperti penanaman pohon yang akhirnya hanyut tersapu ombak dalam hitungan bulan karena tidak adanya perawatan.


​Anggaran yang Nihil: Di tengah gencarnya proyek infrastruktur darat, anggaran pertahanan lingkungan untuk mitigasi bencana pesisir—khususnya penyelamatan Pulau Tikus—nyaris tidak pernah menjadi skala prioritas dalam APBD Bengkulu.



​"Kami sangat menyayangkan sikap dingin pemerintah. Pulau ini posisinya sangat dekat dengan kantor gubernur dan wali kota, terlihat jelas dari pantai, tapi mengapa dibiarkan mati perlahan? Selama bertahun-tahun, yang bergerak merawat terumbu karang dan menanam bakau di sana hanya komunitas relawan lokal dengan dana swadaya seadanya. Pemerintah ke mana?" ungkap salah satu aktivis lingkungan lokal Bengkulu dengan nada kecewa, Kamis (16/07/2026).


​Ancaman Nyata di Depan Mata

​Jika pembiaran ini terus berlanjut tanpa adanya aksi darurat berupa pembangunan struktur pemecah gelombang (breakwater) yang masif, para ahli memprediksi Pulau Tikus akan tenggelam sepenuhnya secara permanen dalam waktu dekat.

​Kehilangan Pulau Tikus bukan hanya kehilangan satu titik daratan wisata, melainkan hilangnya benteng pertahanan terakhir Bengkulu dari ancaman bencana abrasi yang lebih parah di daratan utama, bahkan potensi hantaman tsunami di masa depan. Publik kini menanti, apakah pemerintah baru akan bertindak setelah pulau ini benar-benar hilang dari peta dan menjadi sejarah kelam?



Mardiansyah

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image