BREAKING NEWS
Kredit Perdagangan Bank Kuningan Daftar Angsuran Kredit Bank Kuningan

RAJA BISNIS ORDE BARU, DARI PEDAGANG CENGKEH MENJADI CUKONG TERBESAR SOEHARTO, LALU NYARIS RUNTUH DALAM KERUSUHAN 1998

 


RAJA BISNIS ORDE BARU, DARI PEDAGANG CENGKEH MENJADI CUKONG TERBESAR SOEHARTO, LALU NYARIS RUNTUH DALAM KERUSUHAN 1998


Jika ada satu nama yang paling identik dengan kebangkitan konglomerasi pada era Orde Baru, nama itu adalah Liem Sioe Liong atau Sudono Salim. Dari seorang remaja miskin yang putus sekolah dan merantau dari Fujian, China, ia menjelma menjadi penguasa kerajaan bisnis yang menguasai tepung terigu, mi instan, semen, perbankan, otomotif, hingga properti. Namun di balik kisah sukses itu, sejarah juga mencatat berbagai praktik bisnis kontroversial dan kedekatannya dengan Presiden Soeharto yang kemudian menjadi pedang bermata dua.


🔳 Merantau dari China yang Dilanda Perang


Liem Sioe Liong lahir pada 16 Juli 1916 di Fuqing, Fujian, China. Masa kecilnya berlangsung di tengah kemiskinan dan kekacauan akibat perang saudara serta konflik antara China dan Jepang. Keadaan memaksanya putus sekolah.


Saat berusia sekitar 15 tahun, ia memutuskan merantau ke Hindia Belanda untuk menyusul kakaknya di Kudus. Namun ia sempat terlantar beberapa hari di Surabaya sebelum akhirnya dijemput keluarga.


Di Kudus, ia bekerja di pabrik kerupuk. Dari sana, ia melihat peluang dari perdagangan cengkeh yang menjadi komoditas utama industri kretek.


Liem kemudian menikahi perempuan dari keluarga pedagang dan mulai membangun bisnis sendiri.


🔳 Dari Pedagang Cengkeh Menjadi Penyelundup Komoditas


Bisnis cengkehnya berkembang pesat. Menurut berbagai catatan sejarah ekonomi Indonesia, ia tidak hanya berdagang secara legal. Liem juga dikenal melakukan penyelundupan cengkeh dari Maluku, Sumatra, dan Sulawesi untuk memenuhi permintaan industri rokok Jawa.


Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, bisnis itu runtuh. Namun Liem segera mencari peluang baru.


Ia masuk ke bisnis logistik dan memasok kebutuhan tentara, mulai dari makanan, obat-obatan, hingga berbagai perlengkapan lain.


Di sinilah takdirnya berubah.


🔳 Bertemu Soeharto dan Awal Hubungan Simbiosis


Melalui perantara sepupunya, Sulardi, Liem berkenalan dengan Kolonel Soeharto pada masa Revolusi Kemerdekaan.


Ia kemudian menjadi pemasok logistik pasukan Diponegoro yang dipimpin Soeharto.


Hubungan keduanya terus berlanjut bahkan setelah perang usai.


Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam buku Liem Sioe Liong and Salim Group menulis:


> "Setelah Soeharto meraih kekuasaan pada pertengahan 1960-an, dia didukung oleh kelompok kroni pengusaha, yang terbesar dan terkuat adalah Liem Sioe Liong."


Selama lebih dari tiga dekade, hubungan keduanya berkembang menjadi kemitraan saling menguntungkan.


Soeharto memberikan perlindungan politik dan berbagai fasilitas usaha. Sebaliknya, Salim Group menjadi salah satu sumber pendanaan penting bagi jaringan kekuasaan Orde Baru.


🔳 Membangun Kerajaan Bisnis


Dengan dukungan politik yang kuat, kerajaan bisnis Salim berkembang luar biasa.


Ia mendirikan:


- Bogasari Flour Mills, yang memperoleh monopoli impor gandum dan penggilingan tepung.

- Indocement, salah satu produsen semen terbesar.

- Indofood, yang kemudian melahirkan Indomie.

- Indomobil.

- Metropolitan Development.

- Bank Central Asia (BCA), bersama Mochtar Riady.


Pada era 1980-an dan 1990-an, Liem menjadi orang terkaya Indonesia.


🔳 Praktik Bisnis Kontroversial


Kesuksesan Salim Group juga diiringi berbagai tudingan praktik kroni kapitalisme.


Menurut ekonom Richard Robison dalam Indonesia: The Rise of Capital, banyak perusahaan Salim memperoleh lisensi, hak monopoli, kredit murah, serta perlindungan negara.


Bogasari misalnya menikmati monopoli tepung terigu selama bertahun-tahun.


Salim Group juga memperoleh berbagai proyek strategis yang sulit disentuh pesaing.


Selain itu, pada awal Orde Baru, perusahaan-perusahaan Salim diketahui menjadi perantara impor berbagai komoditas yang keuntungannya sebagian mengalir ke yayasan-yayasan milik keluarga Soeharto.


Dalam berbagai studi ekonomi Indonesia, hubungan Salim-Soeharto sering disebut sebagai contoh klasik "crony capitalism" atau kapitalisme kroni.


🔳 Krisis 1997 dan Awal Kejatuhan


Ketika krisis moneter menghantam Asia pada 1997, kerajaan Salim mulai goyah.


BCA mengalami rush besar-besaran. Masyarakat berbondong-bondong menarik tabungan mereka.


M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern mencatat bahwa BCA menjadi salah satu bank yang paling terpukul.


Namun pukulan terbesar datang pada Mei 1998.


Kemarahan rakyat terhadap Soeharto ikut menyeret nama Liem Salim.


Menurut Jemma Purdey dalam Kekerasan Anti-Tionghoa di Indonesia 1996-1999, masyarakat memandang para konglomerat Tionghoa sebagai simbol ketidakadilan ekonomi dan kedekatan dengan rezim.


"Perusahaan para cukong dan keluarga Soeharto merupakan sasaran utama pembakaran dan penjarahan. Bank Central Asia milik Liem Sioe Liong merupakan objek serangan utama," tulis Ricklefs.


🔳 Rumah Dibakar Massa


Ketika kerusuhan pecah, Sudono Salim sedang berada di Amerika Serikat untuk operasi mata.


Anthony Salim berada di Jakarta.


Pada 14 Mei 1998, rumah keluarga Salim di Roxy didatangi massa.


Anthony kemudian memerintahkan para satpam agar tidak melawan.


Ia berkata kepada Richard Borsuk dan Nancy Chng:


> "Dalam sekejap, seluruh mobil di garasi terbakar, termasuk juga seisi rumah. Mereka membakar furnitur, mencopot lukisan dan mengobrak-abrik kamar. Bahkan mereka mencoret-coret rumah dengan kata-kata tidak pantas."


Asap hitam membumbung dari rumah itu.


Foto Liem Salim dibakar di jalan-jalan Jakarta.


Anthony lalu melarikan diri ke Singapura menggunakan jet pribadi.


🔳 BCA Lepas dari Tangan Salim


Setelah Soeharto lengser pada 21 Mei 1998, keadaan makin buruk.


Sebanyak 122 cabang BCA rusak.

150 ATM dihancurkan.


Pemerintah melalui BPPN mengambil alih BCA dengan status Bank Taken Over (BTO).


Selain BCA, pabrik Indofood di Solo dan pusat distribusinya di Tangerang juga menjadi sasaran amuk massa.


Kerajaan bisnis yang dibangun selama lebih dari tiga puluh tahun hampir runtuh.


🔳 Bangkit Bersama Anthony Salim


Pada usia tua, Sudono Salim menyerahkan tongkat estafet kepada putranya, Anthony Salim.


Anthony melakukan restrukturisasi besar-besaran dan perlahan membangkitkan grup tersebut.


Fokus utama diberikan kepada Indofood yang kemudian berkembang menjadi salah satu perusahaan makanan terbesar di Asia Tenggara.


Salim Group kembali merambah berbagai sektor, mulai dari energi, konstruksi, perkebunan, telekomunikasi hingga pusat data.


Sudono Salim sendiri menghabiskan masa tuanya di Singapura.

Ia meninggal dunia pada 10 Juni 2012 dalam usia 95 tahun.


🔳 Peninggalan yang Tetap Menjadi Perdebatan


Bagi sebagian orang, Sudono Salim adalah lambang kerja keras seorang perantau miskin yang berhasil membangun kerajaan bisnis dari nol.


Namun bagi sebagian lainnya, ia merupakan simbol kapitalisme kroni yang tumbuh berkat kedekatan dengan kekuasaan.


Yang jelas, sulit membicarakan sejarah ekonomi Indonesia modern tanpa menyebut nama Liem Sioe Liong.


Ia adalah orang yang ikut membentuk wajah ekonomi Orde Baru, sekaligus menjadi salah satu korban terbesar ketika rezim yang selama puluhan tahun menopangnya akhirnya runtuh.


Red

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image