Rio Alvikram Soroti Bobroknya Layanan RS Se-Provinsi Bengkulu: "Kamar Kosong Tapi Pasien Ditolak, Di Mana Slogan Bantu Rakyat?"
Rio Alvikram Soroti Bobroknya Layanan RS Se-Provinsi Bengkulu: "Kamar Kosong Tapi Pasien Ditolak, Di Mana Slogan Bantu Rakyat?"
BENGKULU, Aktualid.com Pelayanan rumah sakit di seluruh wilayah Provinsi Bengkulu kembali mendapat sorotan tajam. Kali ini, kritik keras datang dari tokoh pemuda sekaligus aktivis sosial Bengkulu, Rio Alvikram. Ia mengecam keras maraknya fenomena penolakan pasien oleh pihak rumah sakit dengan dalih "kamar penuh", yang diduga kuat hanya akal-akalan oknum tidak bertanggung jawab.
Rio Alvikram mengungkapkan bahwa dirinya menerima banyak laporan dari masyarakat yang telantar dan gagal mendapatkan hak perawatan medis. Ironisnya, setelah dilakukan pengecekan mandiri atau investigasi di lapangan, klaim keterbatasan fasilitas tersebut kerap kali tidak terbukti.
"Ini sudah jadi lagu lama yang terus berulang. Pasien datang dalam kondisi darurat, lalu ditolak dengan alasan kamar rawat inap sudah penuh. Padahal, setelah dicek, masih banyak sisa kamar yang kosong. Ini sangat tidak manusiawi!" tegas Rio dengan nada geram kepada redaksi Aktualid.com, Sabtu (11/7).
Menagih Slogan Politik Gubernur Helmi Hasan
Lebih lanjut, Rio juga mempertanyakan realisasi dari komitmen politik Pemerintah Provinsi Bengkulu di bawah kepemimpinan Gubernur Helmi Hasan. Selama ini, jargon "Bantu Rakyat" dan program-program jaminan kesehatan selalu digaungkan ke publik. Namun, realita di lantai perawatan rumah sakit justru berbanding terbalik.
"Masyarakat kita di bawah hari ini menjerit. Mereka bingung harus berobat ke mana lagi kalau rumah sakit milik pemerintah saja menutup pintu. Kami menagih slogan 'Bantu Rakyat' milik Gubernur Helmi Hasan. Slogan itu jangan hanya manis di baliho atau media sosial, tapi harus dibuktikan nyata ketika rakyat sedang sekarat dan butuh kamar inap," cetus Rio.
Dampak Nyata di Lapangan
Berdasarkan data dan laporan yang dihimpun, dampak dari ketidakmaksimalan layanan ini meliputi:
Pasien Telantar di Selasar/IGD: Banyak pasien darurat terpaksa tertahan berjam-jam di ruang IGD tanpa kepastian kamar.
Diskriminasi Pasien Kelas Bawah: Keluhan penolakan ini mayoritas dialami oleh pasien pengguna BPJS Kesehatan atau program bantuan pemerintah.
Beban Finansial Tambahan: Keluarga pasien terpaksa merujuk ke klinik atau RS swasta yang biayanya jauh lebih tinggi demi menyelamatkan nyawa.
Desak Evaluasi Total dan Sanksi Tegas
Menyikapi carut-marutnya pelayanan kesehatan ini, Rio Alvikram mendesak Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu dan Gubernur untuk segera turun tangan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke seluruh rumah sakit daerah.
Ia meminta sistem transparansi ketersediaan kamar (boring system) dibuka secara real-time kepada publik agar tidak ada lagi ruang bagi oknum rumah sakit untuk berbohong.
"Harus ada evaluasi total dan sanksi tegas. Copot kepala rumah sakit atau manajemen yang terbukti menolak pasien secara sengaja padahal fasilitas tersedia. Urusan nyawa rakyat tidak boleh dinegosiasikan atau dijadikan permainan birokrasi," pungkas Rio menyudahi wawancara.
(Adek fiore)


