Jawa Barat Menangis: Ketika Alam Menagih "Utang" di Bandung Barat
Jawa Barat Menangis: Ketika Alam Menagih "Utang" di Bandung Barat
Bandung Barat, 24 Januari 2026 — Pemandangan di layar kaca itu bukan sekadar rekaman pasca-bencana; itu adalah potret kehancuran total. Tujuh nyawa melayang dan 82 orang lainnya masih hilang ditelan bumi. Namun, di balik angka-angka statistik yang mengerikan ini, ada cerita yang lebih gelap tertulis di ticker berita: "Disebabkan Alih Fungsi Lahan."
Bukan Sekadar Hujan, Tapi "Luka" Lahan
Video amatir dan laporan langsung dari lokasi memperlihatkan bukit-bukit yang seharusnya hijau kini telanjang, berubah menjadi luncuran lumpur mematikan. Rumah-rumah warga yang tadinya berdiri kokoh, kini rata dengan tanah, tersapu material longsor yang tak terbendung.
Narasi "cuaca ekstrem" seringkali menjadi kambing hitam paling mudah. Namun, pernyataan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang menyoroti alih fungsi lahan adalah sebuah tamparan keras. Ini mengindikasikan bahwa tragedi di Bandung Barat bukanlah act of God semata, melainkan akumulasi dari pembiaran ekologis. Hutan penyangga yang dialihfungsikan menjadi pertanian komersial atau pemukiman tanpa analisis dampak lingkungan (AMDAL) yang benar, pada akhirnya menjadi bom waktu.
Evakuasi di Tengah Ketidakpastian
Situasi di lapangan—seperti yang terekam dalam laporan langsung Kompas TV—sangat chaotic. Sinyal komunikasi yang timbul-tenggelam ("sinyalnya lup-lep") menjadi simbol betapa sulitnya medan yang dihadapi tim SAR.
Prioritas keselamatan tim penyelamat menjadi dilema tersendiri. Di satu sisi, ada 82 jiwa yang mungkin masih tertimbun dan menunggu uluran tangan. Di sisi lain, tanah yang labil dan ancaman longsor susulan membuat setiap langkah evakuasi menjadi pertaruhan nyawa bagi para penyelamat itu sendiri.
Alarm Keras untuk Tata Ruang
Tragedi 24 Januari ini harus dibaca sebagai alarm darurat bagi tata ruang Jawa Barat. Ketika daerah resapan air "dipaksa" berubah fungsi demi keuntungan ekonomi sesaat, alam akan mencari cara untuk menyeimbangkan dirinya kembali—seringkali dengan cara yang brutal.
82 orang yang hilang hari ini bukan hanya korban bencana alam; mereka adalah korban dari kebijakan tata ruang yang abai.
Pertanyaannya sekarang bukan hanya kapan 82 saudara kita ditemukan, tapi ke mana perginya mereka yang dulu menandatangani izin alih fungsi lahan ini? Jangan sampai air mata warga Bandung Barat hanya menjadi tinta basah di koran, sementara para pemberi izin tidur nyenyak di rumah yang aman.
Irman



