BREAKING NEWS
Kredit Perdagangan Bank Kuningan Daftar Angsuran Kredit Bank Kuningan

Keracunan MBG Bawa Petaka Bagi Korban dan Repotkan Guru hingga Nakes, Netizen: SPPG Tetap Tertawa di Balik Dapurnya

 BERITA NASIONAL 



Keracunan MBG Bawa Petaka Bagi Korban dan Repotkan Guru hingga Nakes, Netizen: SPPG Tetap Tertawa di Balik Dapurnya


Kasus dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus bermunculan. Berdasarkan pemantauan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), sejak program diluncurkan pada 6 Januari 2025 hingga pertengahan Agustus 2026, sedikitnya 43.838 orang di 36 provinsi tercatat menjadi korban dugaan keracunan yang berkaitan dengan MBG. 


Angka tersebut menunjukkan persoalan keamanan pangan MBG bukan kejadian yang hanya muncul sesekali. Bahkan sejak Sudaryono menjabat Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), tercatat sedikitnya 12 kasus dugaan keracunan dengan jumlah korban sekitar 2.800 hingga 2.886 orang dalam periode 22 Juli sampai 1 September 2026. Angka itu merupakan catatan kasus yang dilaporkan media berdasarkan pemantauan terhadap kejadian di berbagai daerah. 


Setiap kasus tidak hanya membuat siswa atau penerima manfaat harus mendapatkan pertolongan. Orang tua harus meninggalkan pekerjaan untuk mendampingi anak, guru ikut menangani kondisi siswa di sekolah, sementara tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan harus menghadapi kedatangan korban dalam jumlah banyak. Pada awal September saja, Koalisi MBG Watch mencatat sekitar 1.642 korban baru dalam 72 jam dari sejumlah kejadian di tiga provinsi. 


Kondisi tersebut kemudian memunculkan kritik di media sosial. Sejumlah netizen menyindir bahwa ketika makanan MBG diduga membuat penerima manfaat sakit, yang ikut repot justru orang tua, guru dan tenaga kesehatan, sementara pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dianggap tetap berada di balik dapur. Muncul pula sindiran, “SPPG tetap tertawa di balik dapurnya.” Namun, ungkapan tersebut merupakan komentar netizen dan tidak dapat digeneralisasi sebagai sikap seluruh pengelola SPPG.


Besarnya angka korban membuat pengawasan keamanan pangan menjadi persoalan penting dalam pelaksanaan MBG. Data korban tersebut masih berupa dugaan keracunan dan tidak otomatis berarti seluruh kasus telah terbukti disebabkan oleh makanan MBG. Penyebab setiap kejadian tetap perlu dipastikan melalui pemeriksaan medis, epidemiologi dan laboratorium. Namun dengan puluhan ribu laporan korban sejak program berjalan, pertanyaan publik kini bukan hanya siapa yang harus menangani korban, tetapi juga bagaimana memastikan kejadian serupa tidak terus berulang.


Red

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image