Sajak Usang Akhir Agustus
PUISIKU
Sajak Usang Akhir Agustus
Tiang-tiang bambu mulai condong di ujung gang,
Merah putihnya tak lagi secerah pertengahan bulan.
Pekik merdeka yang kemarin lantang menggema.
Kini luruh, tersapu angin kemarau dan debu jalanan.
Ini akhir Agustus yang perlahan usang,
Setelah panggung-panggung dibongkar dan lampu dipadamkan.
Lagu-lagu pawai tak lagi pecah di pelantang suara,
Tergantikan deru mesin dan tapak kaki rutinitas biasa.
Kita kembali pada sunyi masing-masing,
Menyimpan sisa hingar-bingar ke dalam kardus ingatan.
Seolah baru tersadar, setelah segala perayaan usai,
Merdeka sering kali adalah perjuangan yang sepi menantang hari-hari.
Selamat tinggal riuh yang hanya singgah sejenak.
Agustus menutup pintunya tanpa suara,
Meninggalkan kita di teras yang kembali lengang,
Menatap sisa-sisa kemeriahan yang memudar ditelan petang.
Pergantian dari riuhnya perayaan kemerdekaan menuju rutinitas biasa memang sering kali menyisakan ruang sepi yang tiba-tiba terasa kosong, ya.
Pujangga Renta
Irsyamba


