WASKITA DAN GURU RUPA: DUA GURU YANG BERBEDA - SATU TIDAK KELIHATAN, SATU MATERI
DUNIA PENDIDIKAN
WASKITA DAN GURU RUPA: DUA GURU YANG BERBEDA - SATU TIDAK KELIHATAN, SATU MATERI
Banyak orang mengira guru itu cuma yang berdiri di depan kelas. Pakai baju batik, pegang spidol. Itu " Guru Rupa "
Padahal orang tua kita di Sunda dan Jawa mengenal guru yang kedua, yang jauh lebih tinggi: *Waskita*. Guru yang tidak kelihatan.
Kalau salah membedakan dua ini, hidupmu bisa tersesat. Kamu bisa menyembah Guru Rupa, padahal dia cuma perantara. Atau kamu bisa menolak Waskita, karena tidak bisa kamu foto.
I. GURU RUPA: GURU YANG MATERI, YANG KELIHATAN MATA
Guru Rupa adalah guru fisik.
- Guru SD yang mengajari kamu baca tulis
- Kiyai di pesantren Cijoho yang mengajari kamu ngaji
- Dosen, pelatih silat, bos di tempat kerja, bahkan YouTuber yang kamu tonton tiap hari
- Orang tua kandungmu sendiri
*Sifat Guru Rupa:*
1. *Kelihatan, bisa disentuh, bisa salah.* Hari ini dia pintar, besok dia bisa lupa. Hari ini dia baik, besok dia bisa khilaf.
2. *Terbatas ruang dan waktu.* Dia hanya ada saat kamu bertemu. Kalau dia meninggal, ilmunya berhenti kalau tidak dituliskan.
3. *Mengajarkan dengan kata dan contoh.* "Lakukan seperti saya." Dia pakai papan tulis, pakai kitab, pakai video.
Guru Rupa itu penting. Tanpa dia, kamu buta huruf. Tapi dia bukan tujuan akhir. Dia adalah *jembatan*.
Dalam istilah Sunda: *Guru Rupa adalah "papasangan" - yang memasangkan kamu dengan ilmu.*
Masalahnya, banyak orang berhenti di jembatan. Dia memuja jembatannya, lupa mau ke mana jembatannya menuju. Dia fanatik pada Guru Rupanya sampai menganggap Guru Rupanya tidak pernah salah, seperti Tuhan. Di sinilah awal kesesatan.
### II. WASKITA: GURU YANG TIDAK KELIHATAN, YANG MENGINTIP DARI DALAM
Waskita berasal dari kata Sanskerta: _Was_ (cahaya) + _Kita_ (terlihat). Artinya *"yang bisa melihat cahaya"* atau *"mata batin yang melihat"*.
Waskita bukan orang. Waskita adalah *kemampuan, kesadaran, dan bisikan kebenaran dari dalam.*
Orang Jawa menyebutnya:
- *Rasa Sejati*
- *Guru Sejati* atau *Guru Murshid di dalam dada*
- *Pamomong* - yang mengasuh
Orang Sunda menyebutnya:
- *Sukma Sejati*
- *Indra keenam yang sudah dibuka*
*Sifat Waskita:*
1. *Tidak kelihatan, tapi terasa.* Tidak bisa difoto, tidak bisa direkam. Tapi saat kamu mau bohong, ada yang menegur dari dalam: "Jangan."
2. *Tidak terbatas ruang waktu.* Dia ikut kamu ke mana saja. Saat kamu sendirian di sawah jam 2 malam, saat kamu di SPBU Juanfa yang kosong, dia tetap ada.
3. *Mengajarkan tanpa kata.* Dia mengajar lewat rasa tidak enak, lewat mimpi, lewat kebetulan yang berulang, lewat getaran di dada. Orang pesantren bilang: *Ilmu Laduni.*
Jika Guru Rupa mengajarimu *BAGAIMANA caranya*, Waskita mengajarimu *KENAPA harus melakukannya dan KAPAN harus berhenti.*
### III. BEDANYA SEPERTI APA? INI CONTOH NYATA
Biar jelas, ini bedanya:
*Kasus 1: Mau bisnis*
- *Guru Rupa bilang:* "Jualan Pertalite eceran untung besar saat langka. Beli 10 jerigen."
- *Waskita bilang:* "Jangan. Kamu sudah lihat orang lain susah cari bensin semalam. Kalau kamu timbun, kamu tambah susahkan mereka."
*Kasus 2: Mau beribadah*
- *Guru Rupa bilang:* "Sholat itu 5 waktu, bacaannya begini."
- *Waskita bilang:* "Sholatmu hari ini kosong. Mulut baca, tapi pikiran di harga bensin. Ulangi dengan hati."
Guru Rupa memberi *aturan*. Waskita memberi *rasa*.
### IV. ORANG YANG SEMPURNA ADALAH YANG PUNYA DUA-DUANYA
Kata leluhur:
> "Lamun ngan boga Guru Rupa, anjeun bakal pinter tapi kosong. Lamun ngan boga Waskita tanpa Guru Rupa, anjeun bakal ngaco, ngaku nabi."
> (Kalau cuma punya Guru Rupa, kamu akan pintar tapi kosong. Kalau cuma punya Waskita tanpa Guru Rupa, kamu akan ngaco, mengaku nabi).
- Orang yang hanya punya Guru Rupa: Rajin ngaji, hafal dalil, tapi hatinya keras, mudah menghakimi orang lain. Pinter di otak, gelap di hati.
- Orang yang hanya mengaku punya Waskita: Tidak mau belajar pada guru fisik, katanya "saya dapat bisikan langsung dari langit". Akhirnya sesat, merasa paling waskita sendiri.
Yang benar: *Guru Rupa dipakai untuk melatih Waskita.*
Kamu belajar pada Kiyai (Guru Rupa) tentang mana halal haram, supaya Waskitamu punya kompas. Lalu Waskitamu yang akan membisikkan kapan aturan itu harus dipakai dengan kasih.
Puncaknya, dalam Suluk Jawa disebut:
*"Guru Sejati lebur dengan Guru Rupa. Yang di luar dan di dalam jadi satu."*
Saat itu kamu tidak lagi belajar karena disuruh guru, tapi karena hatimu sendiri yang haus. Guru fisikmu sudah duduk di dalam dadamu.
Jadi, hari ini kamu berguru pada siapa?
Kalau masih mencari Guru Rupa, teruskan. Hormati dia, tapi jangan sembah.
Kalau sudah mulai mendengar Waskita, rawat. Caranya: puasa, sepi, jujur, dan jangan banyak makan dan banyak bicara. Karena Waskita itu seperti sinyal HP, dia hanya jernih kalau di tempat yang sepi, tidak berisik.
Guru Rupa menunjukkan jalan. Waskita yang menunjukkan apakah jalan itu benar untukmu.
Dua-duanya guru. Tapi yang satu materi, yang satu tidak kelihatan.
Santos Johar


