Saat Rekening Diintervensi, Kepercayaan Publik Terhadap Bank Mandiri Runtuh
Mimbar Redaksi
Saat Rekening Diintervensi, Kepercayaan Publik Terhadap Bank Mandiri Runtuh
Oleh: Kawan Nazar
Fenomena pemblokiran—atau yang dibahasakan halus sebagai "penundaan transaksi"—pada rekening milik Supriyono alias Botok dari penggalangan dana demo warga Pati menjadi preseden yang sangat meresahkan. Langkah Bank Mandiri yang menuruti perintah kepolisian ini bukan sekadar urusan administrasi perbankan, melainkan wujud nyata atas sikap represif yang mengancam hak menyampaikan pendapat dan membabat habis independensi lembaga keuangan.
Polisi dan Alasan Izin Dana: Tameng Teknis Pembungkaman Aspirasi
Alasan Reskrim Polda Metro Jaya bahwa aksi penundaan dilakukan karena penghimpunan dana belum berizin terasa sangat dipaksakan dan tebang pilih. Mengapa aturan izin penghimpunan dana tiba-tiba ditegakkan begitu cepat, presisi, dan kaku saat dana tersebut hendak digunakan untuk mendukung aksi demo warga Pati pada 27 Agustus besok?
Penggunaan regulasi teknis ini memperlihatkan bagaimana instrumen hukum dimanfaatkan sebagai instrumen politik untuk membendung gerakan masyarakat sipil. Polisi seolah menggunakan alasan formalitas sebagai tameng untuk melumpuhkan logistik warga sebelum mereka sempat menginjakkan kaki di Jakarta. Jika penggalangan dana rakyat untuk memperjuangkan haknya dianggap ilegal hanya karena persoalan izin, lantas di mana ruang aman bagi masyarakat untuk bersuara?
Sikap Bank Mandiri dan Bahaya Penundukan Pada Kekuasaan
Di sisi lain, keputusan Bank Mandiri untuk langsung 'patuh' pada perintah polisi tanpa transparansi yang jelas memperlihatkan rapuhnya benteng independensi bank BUMN. Bank seharusnya menjadi tempat paling aman untuk menyimpan aset publik, bukan justru menjadi alat kontrol sosial bagi kekuasaan.
Sikap tunduk ini mengirimkan pesan bahaya: uang nasabah bisa dibekukan kapan saja jika aktivitas pemiliknya berseberangan dengan kepentingan atau narasi penguasa.
Reaksi Masif Publik: Harga Mahal Sebuah Kepercayaan
Reaksi keras warganet yang ramai-ramai menyerukan aksi pamer pindah rekening (close account) ke bank swasta adalah bentuk perlawanan publik yang sangat rasional. Dalam bisnis perbankan, trust atau kepercayaan adalah modal utama. Begitu publik merasa uang mereka tidak lagi aman dari intervensi politik, kepercayaan itu runtuh seketika.
Dampak finansial dan reputasi yang harus ditanggung Bank Mandiri menjelang dan sesudah 27 Agustus bisa sangat besar. Gelombang penarikan dana massal bukan sekadar ancaman di media sosial, melainkan peringatan nyata bahwa publik tidak mau mendanai atau mempercayakan uangnya pada lembaga yang dinilai ikut melanggengkan represifitas aparat.


