Di Balik Tirai Sektarian: Mengapa Identitas Syiah Iran Baru Menjadi Ancaman Pasca-1979?
KEAGAMAAN
Di Balik Tirai Sektarian: Mengapa Identitas Syiah Iran Baru Menjadi Ancaman Pasca-1979?
Dalam diskursus geopolitik Timur Tengah modern, Iran kerap dibingkai melalui lensa tunggal: sebagai episentrum "ancaman Syiah" bagi dunia Islam dan stabilitas kawasan. Narasi ini bergema begitu kuat, membentuk opini publik bahwa krisis struktural di kawasan tersebut murni berakar pada konflik teologis dan sejarah yang telah berusia lebih dari satu milenium. Namun, analisis historis secara objektif mengungkap sebuah paradoks fundamental: jika mazhab Syiah adalah akar dari segala masalah, mengapa Iran pada era Shah Mohammad Reza Pahlavi justru dirangkul sebagai sekutu strategis oleh kekuatan Barat dan Israel?
Berikut adalah hasil pembedahan analitis untuk memisahkan realitas material dari retorika sektarian dalam memahami posisi geopolitik Iran.
1. Fakta Historis dan Ilusi Variabel Agama
Jauh sebelum Revolusi Islam 1979 meletus, Iran telah berstatus sebagai negara dengan mayoritas demografi bermazhab Syiah. Di bawah kepemimpinan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang juga menganut Syiah negara ini memberikan ruang bagi tradisi fikih Ja'fari, peringatan Asyura, dan ziarah makam Ahlulbait untuk hidup berdampingan dalam kultur masyarakatnya.
Menariknya, pada era tersebut, identitas Syiah sama sekali tidak dianggap sebagai "ancaman sekte".
Kebijakan Twin Pillars: Berdasarkan Doktrin Nixon, Amerika Serikat menempatkan Iran (Syiah) dan Arab Saudi (Sunni) sebagai dua pilar utama penjaga stabilitas dan kepentingan AS di Teluk Persia.
Aliansi Material: Iran adalah salah satu konsumen persenjataan militer AS terbesar pada masanya sekaligus penyuplai minyak krusial bagi Israel.
Titik balik tidak terjadi karena warga Iran mengubah teks teologi mereka, melainkan karena pergeseran drastis pada arsitektur kekuasaan pada tahun 1979. Shah tumbang, Ayatullah Ruhullah Khomeini mengambil alih, dan Republik Islam berdiri. Orientasi luar negeri dirombak total: Iran menolak hegemoni Amerika Serikat dan memutus hubungan diplomatik dengan Israel, bahkan menyerahkan gedung kedutaan Israel di Teheran kepada representasi Palestina.
2. Membedah Kausalitas: Mazhab yang Konstan, Politik yang Dinamis
Dalam metodologi analisis kebijakan dan hubungan internasional, memisahkan korelasi dari kausasi adalah hal yang mutlak.
Jika kita melakukan uji variabel terhadap sejarah Iran, kita akan menemukan bahwa identitas mazhab merupakan variabel konstan (tetap), sedangkan kepatuhan geopolitik terhadap hegemoni Barat adalah variabel dinamis (berubah).
Dampak dari perubahan arah politik ini secara instan mengubah status Iran dari "sekutu utama" menjadi "musuh eksistensial". Secara logis, karena variabel teologi tidak berubah sementara status permusuhan berubah secara radikal, maka akar masalah dari konflik ini secara absolut bermuara pada geopolitik kekuasaan, bukan pada dogma keagamaan.
3. Sektarianisme sebagai Instrumen Mobilisasi Massa
Jika akar pertarungannya adalah kendali geopolitik, mengapa narasi yang mendominasi ruang publik adalah sentimen kebencian Sunni-Syiah?
Dari kacamata strategi kekuasaan, jawabannya bermuara pada efisiensi mobilisasi psikologis. Mengajak publik secara luas untuk memusuhi suatu negara demi mengamankan rute perdagangan maritim, melindungi penguasaan harga minyak, atau menjaga eksistensi militer negara asing adalah strategi komunikasi politik yang akan gagal total.
Sebagai gantinya, agama difungsikan sebagai instrumen pengungkit (leverage). Ketika geopolitik dibingkai sebagai "perang akidah" atau "pembelaan terhadap sejarah", dukungan publik dapat digalang secara instan dan tanpa biaya besar. Isu sektarian menjadi alat divide and conquer (pecah belah) yang sangat efektif. Selama publik di berbagai negara sibuk berseteru secara internal mengenai persoalan fikih, kekuatan eksternal dapat dengan leluasa mempertahankan pengaruh mereka tanpa harus menghadapi perlawanan dari front regional yang bersatu.
4. Memisahkan Sinyal Utama dari "Kebisingan" Konflik
Dalam membaca arsitektur konflik, penting untuk memisahkan noise (kebisingan informasi) dari signal (realitas yang sesungguhnya terjadi).
Kebisingan (Noise): Kampanye hitam berupa tuduhan teologis ekstrem, simplifikasi sejarah yang meromantisasi konflik masa lalu, serta pelabelan reduktif (seperti "milisi Syiah" alih-alih entitas perlawanan nasional).
Sinyal (Signal): Kompetisi kontrol atas titik cekik (chokepoint) strategis di Selat Hormuz, dominasi jalur logistik Asia Barat, serta pertarungan pengaruh antara poros yang pro-Barat melawan poros perlawanan (Axis of Resistance).
Perbedaan teologis dan historis antara Sunni dan Syiah adalah realitas empiris yang tidak bisa dinegasikan. Namun, memanipulasi perbedaan tersebut sebagai bahan bakar kebencian kontemporer adalah sebuah manuver rekayasa politik.
Evolusi geopolitik Iran membuktikan satu hukum besi dalam politik internasional: hegemoni global tidak pernah benar-benar takut pada variasi ritual keagamaan atau identitas sebuah kelompok. Ancaman sesungguhnya bagi status quo adalah keberadaan entitas regional yang independen, berdaulat penuh atas sumber dayanya, dan memiliki kapasitas untuk secara tegas menolak tunduk pada dikte kekuatan eksternal.
Disadur dari FB bang Saiful Ruangkesedaran, pelancong dari Malaysia
Irman


