Rubrik Edukasi: Skeptisisme Sehat, Kunci Berpikir Kritis di Era Banjir Informasi
Rubrik Edukasi: Skeptisisme Sehat, Kunci Berpikir Kritis di Era Banjir Informasi
KUNINGAN – Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh hoaks, disinformasi, maupun berbagai klaim yang belum tentu didukung fakta. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membiasakan skeptisisme yang sehat, yakni tidak langsung mempercayai suatu informasi sebelum memeriksa bukti yang mendasarinya.
Menurut Iman Syamsul Bahri, skeptisisme bukan berarti selalu curiga atau menolak setiap informasi yang diterima. Sebaliknya, sikap tersebut merupakan bagian dari proses berpikir rasional untuk memastikan bahwa suatu klaim benar-benar didukung oleh data, logika, dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
«"Masyarakat perlu membangun budaya bertanya sebelum percaya. Jangan mudah menerima atau menyebarkan informasi hanya karena sesuai dengan keyakinan atau banyak dibagikan orang lain. Biasakan memeriksa sumber, bukti, dan konteksnya terlebih dahulu," ujar Iman Syamsul Bahri.»
Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar di era digital adalah bias konfirmasi, yaitu kecenderungan seseorang lebih mudah menerima informasi yang mendukung pendapatnya sendiri, sementara mengabaikan fakta yang bertentangan. Akibatnya, hoaks dan informasi yang menyesatkan lebih mudah dipercaya dan disebarluaskan.
Dalam kehidupan sehari-hari, skeptisisme dapat diterapkan melalui langkah-langkah sederhana. Misalnya saat melihat iklan produk kesehatan yang menjanjikan hasil instan atau membaca unggahan media sosial yang mengandung klaim sensasional. Sebelum mempercayainya, masyarakat sebaiknya bertanya: Apa buktinya? Dari mana sumber informasinya? Apakah dapat diverifikasi?
Iman Syamsul Bahri juga mengajak masyarakat untuk membiasakan mencari referensi dari sumber yang kredibel, membandingkan informasi dari beberapa sumber, serta tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan sebelum memahami persoalan secara utuh.
Berbagai penelitian di bidang psikologi dan pengambilan keputusan menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis serta mengevaluasi bukti berkontribusi terhadap pengambilan keputusan yang lebih baik, terutama dalam menghadapi persoalan yang kompleks.
Menurutnya, budaya berpikir kritis merupakan fondasi penting bagi masyarakat yang demokratis dan berpengetahuan.
"Berpikir kritis bukan berarti mencari siapa yang salah, melainkan berusaha menemukan apa yang benar berdasarkan fakta dan bukti. Di era digital seperti sekarang, kemampuan ini menjadi bekal penting bagi setiap warga negara," pungkas Iman Syamsul Bahri.
Rokhim




