PSMS adalah klub yang setara secara sejarah dengan Persib
PSMS adalah klub yang setara secara sejarah dengan Persib
Jika PSMS Medan benar-benar kembali berkompetisi di Liga 1, maka satu hal hampir pasti terjadi: pamornya Persija akan perlahan meredup. Bukan tanpa alasan, karena sejak dulu rivalitas sejati Persib bukan Persija, melainkan PSMS Medan.
Secara historis, Persib vs PSMS adalah duel penuh gengsi. Dua klub besar dengan tradisi juara, basis suporter fanatik, dan sejarah panjang sejak era perserikatan. Pertemuan keduanya selalu panas, bukan karena setting media, tapi karena harga diri dan prestasi. Itulah rivalitas alami yang tumbuh dari lapangan, bukan dipaksakan oleh narasi.
Sementara Persija? Dalam beberapa tahun terakhir, rivalitasnya dengan Persib lebih banyak dibesarkan oleh euforia media dan fanatisme berlebihan. Ketika PSMS tidak ada di Liga 1, Persija seolah “mengisi kekosongan” sebagai rival utama. Namun jika PSMS kembali, peta persaingan akan berubah total. Fokus publik sepak bola nasional otomatis tertuju pada duel klasik Persib vs PSMS, rivalitas yang benar-benar berakar kuat.
PSMS adalah klub yang setara secara sejarah dengan Persib. Sama-sama besar, sama-sama berpengaruh, dan sama-sama punya identitas kuat. Inilah yang membuat Persija berpotensi tersisih dari sorotan. Bukan karena Persija kecil, tapi karena kelas rivalitasnya berbeda.
Jadi wajar jika dikatakan: ketika PSMS Medan kembali ke Liga 1, Persib akan menemukan kembali rival sejatinya, dan Persija mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa posisinya bukan lagi yang utama. Rivalitas sejati tidak bisa direkayasa—ia lahir dari sejarah, prestasi, dan kebesaran klub itu sendiri.
Irman



