BREAKING NEWS
Kredit Perdagangan Bank Kuningan Daftar Angsuran Kredit Bank Kuningan

Menelusuri Jejak Leluhur Minangkabau: Dari Basrah Menuju Pariangan.

 


Menelusuri Jejak Leluhur Minangkabau: Dari Basrah Menuju Pariangan.

Sejarah terbentuknya suku Minangkabau tidak hanya tersimpan dalam legenda adu kerbau, tetapi juga dalam catatan sejarah lisan yang disebut Tambo. Berdasarkan penelusuran sejarah, asal-usul nenek moyang orang Minang memiliki kaitan erat dengan perjalanan panjang melintasi benua, yang memulai titik peradabannya di pedalaman Sumatra Barat.

Migrasi dari "Tanah Basa" (Benua Asia)

Dalam Tambo Minangkabau, diyakini bahwa nenek moyang orang Minang berasal dari daerah yang disebut Tanah Basa atau Tanah Besar, yang mengacu pada daratan luas di Benua Asia. Beberapa ahli sejarah dan pemerhati budaya menyebutkan bahwa kawasan ini merujuk pada Basrah, sebuah wilayah di Timur Tengah yang kini terletak di antara Irak dan Persia.

Dikisahkan bahwa leluhur ini melakukan perjalanan besar dengan berlayar melewati Teluk Persia, menyusuri pesisir Benua Asia, hingga akhirnya kapal mereka merapat di pulau Sumatra.

Pariangan: Titik Nol Peradaban Minang

Tempat pertama yang menjadi pemukiman mereka setelah mendarat adalah Pariangan, yang terletak di kaki Gunung Singgalang, dekat Kota Padang Panjang saat ini. Nagari Pariangan dianggap sebagai titik awal peradaban Minangkabau atau asali (asal) dari seluruh nagari yang ada di Ranah Minang.

Di tempat yang sejuk dan subur inilah, aturan adat dan tatanan sosial pertama kali disusun sebelum akhirnya penduduknya mulai bertambah banyak dan menyebar ke wilayah lain.

Tradisi "Manaruko" dan Terbentuknya Tiga Luhak

Seiring berkembangnya populasi di Pariangan, masyarakat mulai melakukan tradisi "Manaruko", yaitu proses membangun pemukiman baru dengan membuka hutan. Dari Pariangan, mereka berpencar ke tiga wilayah administratif utama yang kemudian dikenal dengan sebutan Luhak Nan Tigo:

- Luhak Tanah Datar: Wilayah perluasan pertama.

- Luhak Agam: Wilayah perluasan kedua.

- Luhak Lima Puluh Kota: Wilayah perluasan ketiga.

Perpaduan Budaya dan Identitas

Proses perpindahan ini melibatkan interaksi antara para pendatang dari Pariangan dengan penduduk asli yang sudah lebih dulu bermukim di sana. Perpaduan inilah yang akhirnya melahirkan kesatuan budaya, bahasa, adat istiadat, serta identitas unik suku Minangkabau yang kita kenal sekarang.

Hingga saat ini, Nagari Pariangan masih berdiri tegak sebagai bukti sejarah hidup dan pernah dinobatkan sebagai salah satu desa terindah di dunia, menjaga warisan leluhur yang turun dari generasi ke generasi.

Sumber: Good News From Indonesia (GNFI).

Irman

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image