Yehu Wangsajaya Soroti Tata Kelola Olahraga Indonesia, Dorong Pembinaan Atlet dari Akar Rumput
BERITA OLAH RAGA
Yehu Wangsajaya Soroti Tata Kelola Olahraga Indonesia, Dorong Pembinaan Atlet dari Akar Rumput
Jakarta,Aktualid.com Pengalaman menyaksikan prestasi olahraga China menjadi bahan refleksi Dr. Yehu Wangsajaya. Ia mendesak pemerintah membenahi sistem pembinaan atlet, menghidupkan kembali kompetisi pelajar, dan memastikan anggaran olahraga tepat sasaran.
INDONESIA — Ketertinggalan prestasi olahraga Indonesia di panggung internasional menjadi perhatian Dr. Drs. Yehu Wangsajaya, M.Kom. Berdasarkan pengamatannya selama berada di China, ia menilai keberhasilan negara tersebut membangun prestasi olahraga tidak terlepas dari pembinaan sistematis, kedisiplinan atlet, dukungan negara, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi olahraga.
Dalam refleksinya bertajuk “Membangkitkan Kembali Jiwa Juang, Tata Kelola Olahraga, dan Mentalitas Generasi Emas Indonesia”, Yehu menyebut dominasi kontingen China dalam berbagai cabang olahraga di Asian Games sebagai pelajaran penting bagi Indonesia untuk mengevaluasi sistem pembinaan atlet nasional.
Menurutnya, prestasi olahraga tidak dapat dibangun secara instan. Dibutuhkan perencanaan jangka panjang, kompetisi yang berkesinambungan, pelatih berkualitas, fasilitas memadai, pemenuhan gizi atlet, serta kesempatan mengikuti uji tanding internasional.
Ia juga menyoroti dukungan pendanaan olahraga di China, termasuk pemanfaatan dana lotere olahraga untuk menopang pengembangan fasilitas dan pembinaan atlet. Bagi Yehu, dukungan anggaran harus diarahkan pada kebutuhan nyata peningkatan prestasi, bukan terserap terlalu besar untuk kegiatan administratif dan seremonial.
Evaluasi pembinaan olahraga Indonesia
Yehu mempertanyakan efektivitas kebijakan pemerintah dalam membangun ekosistem olahraga nasional. Menurutnya, besarnya jumlah penduduk Indonesia semestinya menjadi modal besar untuk menemukan dan mengembangkan atlet berbakat di berbagai cabang olahraga.
Namun, ia mengingatkan agar keberhasilan di tingkat Asia Tenggara tidak membuat Indonesia terlena. Prestasi regional harus menjadi batu loncatan menuju persaingan yang lebih tinggi, termasuk Asian Games dan kompetisi dunia.
“Pertanyaan mendasar yang harus dijawab secara jujur adalah ke mana dan sedang apa para pengambil kebijakan di Kementerian Pemuda dan Olahraga serta sektor pendidikan selama ini?” demikian pokok kritik yang disampaikan Yehu dalam refleksinya.
Ia menilai evaluasi perlu dilakukan terhadap kesinambungan pembinaan atlet, sistem pencarian bakat, kompetisi antarpelajar, serta koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan organisasi olahraga.
Menghidupkan kembali pembinaan dari sekolah
Yehu menilai salah satu fondasi penting prestasi olahraga Indonesia pada masa lalu adalah pembinaan berjenjang melalui sekolah dan perguruan tinggi.
Ia menyinggung keberadaan Sekolah Guru Olahraga (SGO), fakultas keolahragaan di lingkungan IKIP, serta penyelenggaraan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) sebagai bagian dari ekosistem yang pernah menyediakan ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan olahraga.
Menurutnya, kompetisi antarpelajar dan pembinaan di tingkat lokal harus kembali diperkuat agar potensi atlet tidak hanya ditemukan di kota-kota besar.
“Di arena itulah mental juang, sportivitas, jiwa ksatria, dan mental juara dapat dipupuk secara alamiah,” menjadi gagasan utama yang ditekankan Yehu.
Ia mendorong pemerintah mengembangkan kembali model pendidikan olahraga yang relevan dengan kebutuhan masa kini, termasuk sekolah kejuruan olahraga modern dan liga pelajar yang terstruktur dari tingkat daerah hingga nasional.
Dengan sistem tersebut, bakat atlet diharapkan dapat teridentifikasi sejak usia dini, kemudian dikembangkan melalui program latihan yang terukur dan berkesinambungan.
Olahraga dan pembentukan karakter generasi muda
Selain persoalan prestasi, Yehu menghubungkan pembinaan olahraga dengan pembangunan karakter generasi muda.
Ia mengkhawatirkan lemahnya ruang kompetisi yang sehat dapat mengurangi kesempatan anak-anak dan remaja untuk belajar disiplin, mengendalikan emosi, menghargai lawan, serta menerima kemenangan dan kekalahan secara sportif.
Dalam refleksinya, ia juga menyoroti tawuran, perundungan, penyalahgunaan narkoba, konsumsi minuman keras, dan perilaku berisiko lainnya sebagai persoalan sosial yang perlu ditangani secara serius.
Meski demikian, pembinaan olahraga bukan satu-satunya solusi untuk persoalan tersebut. Menurut gagasan yang disampaikannya, olahraga perlu menjadi bagian dari pendekatan yang lebih luas melalui pendidikan karakter, pengawasan keluarga, lingkungan sosial yang sehat, serta tersedianya kegiatan positif bagi generasi muda.
Semboyan Mens Sana in Corpore Sano atau di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, menurutnya, harus diwujudkan dalam praktik pendidikan, bukan berhenti sebagai slogan.
Empat agenda pembenahan olahraga nasional
Untuk mendorong kebangkitan prestasi olahraga Indonesia, Yehu mengusulkan empat agenda strategis.
Pertama, menghapus ego sektoral. Ia mendorong koordinasi yang lebih terpadu antara Kementerian Pemuda dan Olahraga, kementerian yang membidangi pendidikan, KONI, dan pemerintah daerah. Pembinaan atlet harus memiliki arah yang jelas dan tidak terhambat sekat birokrasi.
Kedua, merevitalisasi pencarian bakat dari akar rumput. Pemerintah perlu memperkuat kompetisi pelajar berjenjang, sentra pembinaan, dan pendidikan olahraga agar potensi atlet dapat ditemukan secara merata di seluruh Indonesia.
Ketiga, memastikan anggaran tepat sasaran. Menurut Yehu, pendanaan olahraga perlu memprioritaskan peningkatan kualitas pelatih, riset sports science, fasilitas latihan, gizi atlet, serta pembiayaan uji tanding internasional dengan pengawasan dan evaluasi yang transparan.
Keempat, memperkuat pendidikan karakter melalui olahraga. Disiplin, kejujuran, sportivitas, tanggung jawab, dan semangat bela negara harus menjadi bagian integral dari proses pembinaan atlet sejak usia dini.
Momentum pembenahan di bawah kepemimpinan nasional
Yehu menilai kepemimpinan nasional saat ini memiliki peluang untuk mendorong reformasi tata kelola olahraga Indonesia. Ia berharap pemahaman tentang disiplin dan ketahanan nasional dapat diterjemahkan menjadi kebijakan konkret yang memperkuat pembinaan atlet secara berkelanjutan.
Namun, menurut arah pemikirannya, perubahan tidak cukup hanya mengandalkan figur pemimpin. Keberhasilan membutuhkan kebijakan yang konsisten, pembagian tanggung jawab yang jelas, pendanaan yang akuntabel, serta evaluasi berbasis hasil.
Pemerintah juga perlu menetapkan indikator keberhasilan yang terukur, mulai dari peningkatan partisipasi olahraga masyarakat dan pelajar, jumlah atlet binaan, kualitas kompetisi, hingga capaian pada kejuaraan internasional.
Bagi Yehu, kebangkitan olahraga Indonesia harus dimulai dari pembenahan fondasi, bukan semata-mata mengejar medali ketika kejuaraan besar sudah di depan mata.
Ia berharap Merah Putih semakin sering berkibar di panggung olahraga dunia dan lagu Indonesia Raya berkumandang berkat hasil pembinaan yang terencana, disiplin, serta berkesinambungan.
“Untuk mengharumkan Sang Merah Putih demi kejayaan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai,” demikian penegasan Yehu dalam menutup refleksinya.
Salam olahraga dan tetap bersahaja.
Dr. Drs. Yehu Wangsajaya, M.Kom
Jenderal Bersahaja
Red


