BREAKING NEWS
Kredit Perdagangan Bank Kuningan Daftar Angsuran Kredit Bank Kuningan

Yehu Wangsajaya: Generasi Emas 2045 Sulit Terwujud Jika Sistem Pendidikan dan Birokrasi Masih “Besi Karat” Usulkan Kementerian AI dan Robotika untuk Perkuat Kedaulatan Teknologi Indonesia

 BERITA NASIONAL 



Yehu Wangsajaya: Generasi Emas 2045 Sulit Terwujud Jika Sistem Pendidikan dan Birokrasi Masih “Besi Karat”


Usulkan Kementerian AI dan Robotika untuk Perkuat Kedaulatan Teknologi Indonesia


JAKARTA –Aktualid.com Pemerhati Pendidikan Publik sekaligus pakar teknologi informasi dan keamanan siber, Dr. Drs. Yehu Wangsajaya, M.Kom., menilai cita-cita Indonesia Emas 2045 membutuhkan pembenahan serius dalam sistem pendidikan dan birokrasi pemerintahan. Menurutnya, generasi muda tidak akan berkembang optimal apabila masih dibentuk oleh sistem yang kaku, tidak adaptif, dan terjebak ego sektoral.


Pandangan tersebut disampaikan Yehu melalui refleksi bertajuk “Bagaimana Kita Mau Jadi Generasi Emas, Kalau yang Mencetaknya Generasi Besi Karat?” Ia menyoroti perbincangan dua anak berusia sekitar 10 tahun dalam sebuah podcast yang disebut viral, yang melontarkan kritik terhadap sistem pendidikan dan kondisi sosial-politik.


“Besi karat” dalam pandangan Yehu bukan merujuk pada usia seseorang, melainkan menjadi metafora bagi birokrasi usang, kurikulum yang kurang adaptif, ego sektoral antarlembaga, serta mentalitas koruptif yang menghambat perubahan.


Menurutnya, kritik yang disampaikan anak-anak tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan seharusnya membuka ruang bagi kreativitas, keberanian berpikir, dan kemampuan menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab.


Ia menilai, sistem pendidikan tidak semestinya menyeragamkan seluruh potensi peserta didik. Anak-anak yang memiliki bakat seni, misalnya, perlu memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya, tanpa mengabaikan penguasaan kompetensi dasar seperti matematika dan literasi.


“Pendidikan masa depan harus melahirkan generasi yang kritis, kreatif, beretika, dan mampu menyelesaikan persoalan nyata,” demikian inti pandangan Yehu.


Belajar dari Tiongkok, Menjaga Kebebasan Berekspresi


Berdasarkan pengalamannya melakukan perjalanan pengamatan di Eropa Selatan pada akhir 2025 dan Tiongkok pada September hingga Oktober 2026, Yehu menyoroti pentingnya kemampuan negara mengoordinasikan kebijakan teknologi secara terarah.


Ia menilai, perkembangan teknologi Tiongkok memberikan pelajaran mengenai pentingnya koordinasi lintas sektor. Namun, menurutnya, Indonesia juga harus memperhatikan tantangan pengawasan digital dan perlindungan kebebasan berekspresi.


Yehu menyinggung isu algorithmic policing, pengawasan digital, serta sistem kredit sosial yang kerap menjadi perdebatan dalam pembahasan tata kelola teknologi di Tiongkok.


Ia juga mengangkat fenomena Tang Ping, istilah yang menggambarkan sikap sebagian anak muda untuk menarik diri dari tekanan kompetisi sosial dan ekonomi.


Bagi Indonesia, Yehu menilai kebebasan berekspresi merupakan aset demokrasi yang harus dijaga. Namun, kebebasan tersebut perlu diimbangi dengan literasi digital agar generasi muda tidak mudah terpengaruh disinformasi, manipulasi informasi, maupun berbagai bentuk ancaman di ruang siber.


Literasi Digital dan Keamanan Siber Sejak Dini


Yehu mendorong pendidikan teknologi yang terstruktur sejak jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.


Pada pendidikan dasar, anak-anak perlu dibekali etika digital, kesadaran menjaga privasi, dan kemampuan mengenali informasi yang menyesatkan. Pada jenjang menengah, pembelajaran dapat diperluas dengan pengenalan keamanan siber, pemahaman algoritma, dan perlindungan data pribadi.


Sementara itu, perguruan tinggi diharapkan mampu menghasilkan inovator dan tenaga ahli di bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), robotika, serta keamanan siber.


Menurut Yehu, generasi muda Indonesia harus mampu menjadi pencipta teknologi, bukan sekadar pengguna produk digital yang dikembangkan negara lain.


“Generasi muda harus mampu mengendalikan teknologi, bukan justru dikendalikan olehnya,” menjadi pesan utama yang ditekankannya dalam mendorong transformasi pendidikan dan penguatan sumber daya manusia.


Usulkan Kementerian AI dan Robotika


Sebagai langkah strategis, Yehu mengusulkan pembentukan Kementerian AI dan Robotika yang berdiri sendiri. Ia menilai, perkembangan kecerdasan buatan dan robotika membutuhkan kepemimpinan yang fokus, koordinasi lintas sektor, serta arah kebijakan yang jelas.


Menurutnya, kementerian khusus dapat menjadi salah satu opsi untuk menyatukan agenda pengembangan AI, robotika, keamanan siber, regulasi teknologi, dan penyiapan sumber daya manusia masa depan.


Ia berpandangan, ego sektoral antarlembaga berpotensi memperlambat pelaksanaan program strategis apabila tidak diimbangi dengan pembagian kewenangan dan koordinasi yang efektif.


Meski demikian, pembentukan kementerian baru perlu didukung kajian kelembagaan, perhitungan anggaran, serta pembagian tugas yang jelas agar tidak menambah lapisan birokrasi. Penguatan koordinasi lembaga yang sudah ada juga dapat menjadi alternatif yang perlu dipertimbangkan pemerintah.


Bagi Yehu, hal terpenting adalah memastikan Indonesia memiliki tata kelola teknologi yang efektif, mampu merespons perkembangan global, dan tetap mengutamakan kepentingan nasional.


Menyiapkan Generasi Emas 2045


Yehu menegaskan, Indonesia Emas 2045 tidak cukup diwujudkan melalui slogan. Diperlukan perubahan nyata dalam pendidikan, birokrasi, penguasaan teknologi, dan pengembangan kualitas sumber daya manusia.


Ia mengingatkan bahwa generasi muda membutuhkan sistem yang mendukung kreativitas, memberikan ruang bagi pemikiran kritis, serta membuka kesempatan untuk berinovasi.


Menurutnya, keberhasilan Indonesia memanfaatkan perkembangan AI dan robotika akan sangat bergantung pada kesiapan manusia, kualitas kebijakan, dan kemampuan pemerintah membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan.


Pertanyaan mengenai bagaimana melahirkan generasi emas dari sistem yang diibaratkan sebagai “besi karat”, pada akhirnya menjadi ajakan untuk mengevaluasi cara bangsa ini mendidik anak-anak dan mengelola pemerintahan.


Yehu berharap kritik tersebut menjadi bahan diskusi publik sekaligus dorongan bagi pemerintah, dunia pendidikan, dan masyarakat untuk bersama-sama menyiapkan generasi yang unggul, berdaya saing, beretika, dan berdaulat secara teknologi.


Dr. Drs. Yehu Wangsajaya, M.Kom. dikenal sebagai pemerhati pendidikan publik, pakar teknologi informasi dan keamanan siber, futurolog, serta Ketua Umum Ronda Net.


Irman

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image