BREAKING NEWS
Kredit Perdagangan Bank Kuningan Daftar Angsuran Kredit Bank Kuningan

Polisi Bersama Masyarakat Jangan Berhenti Jadi Slogan: Saatnya Community Policing Naik Kelas ke Era Digital

 BERITA NASIONAL 



Polisi Bersama Masyarakat Jangan Berhenti Jadi Slogan: Saatnya Community Policing Naik Kelas ke Era Digital


JAKARTA —Aktualid.com Tagline baru Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, “Polisi Bersama Masyarakat”, menempatkan kedekatan dengan masyarakat, pelayanan publik yang responsif, serta penegakan hukum yang adil sebagai bagian penting arah kepemimpinan baru Polri.


Namun, tantangannya bukan sekadar mendekatkan polisi kepada masyarakat. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana visi tersebut diterjemahkan menjadi sistem pemolisian yang cepat, terukur, transparan dan adaptif terhadap perkembangan kejahatan di era digital.


Hal tersebut menjadi perhatian Dr. Drs. Yehu Wangsajaya, M.Kom, pengamat kepolisian dan teknologi informasi. Berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap digital policing di Tiongkok serta community policing di Jepang dan Inggris, Yehu menawarkan konsep “Smart Digital Community Policing”.


Menurutnya, polisi modern harus menggabungkan kehadiran langsung di tengah masyarakat dengan dukungan data, teknologi komunikasi dan analitik. Polisi tetap humanis di lapangan, sementara teknologi bekerja di belakang layar untuk mempercepat informasi dan pengambilan keputusan.


Patroli Jalan Kaki Berbasis Digital


Salah satu usulan Yehu adalah menghidupkan kembali patroli jalan kaki secara terukur, dengan personel yang dilengkapi body camera dan sarana komunikasi yang terhubung dengan Bhabinkamtibmas serta pusat kendali.


Tujuannya bukan sekadar meningkatkan visibilitas polisi, tetapi memperkuat interaksi langsung dengan masyarakat sekaligus membuat kegiatan kepolisian lebih terdokumentasi dan dapat dipertanggungjawabkan.


Konsep ini sejalan dengan prinsip Pemolisian Masyarakat yang menekankan kemitraan polisi dengan warga, pencegahan kejahatan dan pemecahan masalah di tingkat komunitas.


Patroli Kendaraan dan Ruang Siber


Patroli kendaraan juga perlu terhubung dengan Command Control Center melalui vehicle camera dan perangkat komunikasi.


Dengan integrasi tersebut, informasi kejadian dapat diteruskan kepada personel terdekat sehingga pengerahan bantuan menjadi lebih cepat dan tepat.


Menurut Yehu, patroli kepolisian juga harus diperluas ke ruang digital. Hoaks, penipuan daring, provokasi dan disinformasi dapat berkembang menjadi gangguan keamanan di dunia nyata. Karena itu, pencegahan melalui edukasi, verifikasi informasi dan komunikasi publik menjadi bagian penting dari pemolisian modern.


Penjagaan di Titik Rawan


Kehadiran polisi secara fisik tetap penting, terutama di lokasi yang memiliki tingkat kerawanan atau aktivitas masyarakat tinggi.


Data dapat digunakan untuk menentukan lokasi, waktu dan pola patroli sehingga sumber daya kepolisian ditempatkan berdasarkan kebutuhan nyata, bukan semata rutinitas.


Prinsipnya adalah mempersempit kesempatan terjadinya kejahatan melalui kehadiran dan pencegahan yang terukur.


Command Center Harus Menjadi Pusat Pengambilan Keputusan


Menurut Yehu, Command Control Center tidak boleh hanya berfungsi sebagai ruang pemantauan. Pusat kendali harus mampu menerima laporan, membaca kondisi lapangan, menentukan prioritas dan mengerahkan personel secara cepat.


Di sinilah data-driven policing dan kecerdasan buatan dapat digunakan untuk membantu membaca pola kejadian, lokasi rawan dan tren kriminalitas.


Namun, AI harus menjadi alat bantu, bukan pengganti keputusan manusia. Diskresi kepolisian tetap harus mempertimbangkan hukum, etika, kondisi lapangan dan kearifan lokal.


110 Harus Menjadi Ukuran Pelayanan


Ukuran paling konkret dari slogan “Polisi Bersama Masyarakat” adalah apa yang terjadi ketika warga membutuhkan pertolongan.


Polri telah memiliki layanan darurat 110. Tantangannya adalah memastikan setiap laporan diproses secara cepat, diteruskan kepada personel yang tepat dan diikuti kepastian penanganan.


Bagi Yehu, quick response harus menjadi standar pelayanan sehari-hari, bukan sekadar pencapaian insidental.


Keberhasilan 110 karenanya perlu diukur dari keseluruhan rantai pelayanan: kecepatan menerima panggilan, verifikasi laporan, pengerahan personel, waktu tiba di lokasi dan tindak lanjut terhadap masyarakat.


Teknologi Harus Memperkuat, Bukan Menggantikan, Polisi


Pada akhirnya, Smart Digital Community Policing bukan sekadar proyek digitalisasi kepolisian.


Teknologi dapat mempercepat pengolahan data, komunikasi dan respons. Tetapi kepercayaan publik tetap dibangun melalui interaksi manusia.


Polisi harus mampu memadukan kecepatan teknologi dengan empati, diskresi yang bertanggung jawab, integritas dan pemahaman terhadap masyarakat.


Karena itu, tantangan kepemimpinan baru Polri bukan lagi membuat slogan, melainkan mengubah slogan menjadi sistem kerja yang dapat diukur dan dirasakan masyarakat.


Patroli yang nyata.

Respons yang cepat.

Data yang akurat.

Command center yang efektif.

Bhabinkamtibmas yang dekat dengan warga.

Serta penggunaan teknologi yang tetap menghormati hak masyarakat.


Jika seluruh unsur tersebut berjalan konsisten, maka “Polisi Bersama Masyarakat” tidak berhenti sebagai tagline, tetapi menjadi budaya kerja baru Polri yang benar-benar dirasakan rakyat.


Irman

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image