KISAH YNGWIE MALMSTEEN DI JAKARTA: GITARIS YANG DIANGGAP AROGAN ITU TERNYATA
MUSIK dan INSPIRASI
KISAH YNGWIE MALMSTEEN DI JAKARTA: GITARIS YANG DIANGGAP AROGAN ITU TERNYATA
Tahun 1996, Jakarta kedatangan gitaris yang hampir semua orang bilang paling arogan sedunia. Siapa lagi kalau bukan Yngwie Johann Malmsteen.
Gitaris Swedia yang disebut-sebut sebagai penyebar paham neo-classical ini lagi tur klinik gitar di Hard Rock Cafe Sarinah Thamrin. Sore itu, Almarhum Denny Sakrie beruntung bisa ketemu langsung di studio radio M97FM Classic Rock di Menteng.
Kesan pertama? Dingin, jutek setengah mampus. Sampai kru radio yang mau foto bareng aja ditolak. Harus dibujuk-bujuk manajernya dulu baru mau.
Tapi Denny punya trik. Jangan ajak ngomongin gosip, ajak ngomongin musik.
Dan benar. Begitu Denny puterin album kelompok UK tahun 1977 yang isinya Bill Bruford, Allan Holdsworth, John Wetton dan Eddie Jobson, Yngwie langsung teriak, "Heiiii... whatta music!" kayak kesetanan.
Dari situ cair.
Yngwie ternyata ngefans berat sama Allan Holdsworth. Katanya, "Begitu Allan cabut dari UK, band itu rasanya seperti kehilangan gigi." Konsep legato-nya Allan itu karena dia seorang violinist, dan itu yang diserap Yngwie.
Waktu ditanya soal Paganini, Yngwie langsung nyerocos. "Saya banyak menyerap dari gaya Paganini." Gak heran vibrato gitarnya mirip pemain biola klasik.
Di album Inspirations tahun 1996, Yngwie membawakan ulang lagu-lagu idolanya. Mulai dari UK, Jimi Hendrix - Manic Depression, Rainbow - Gates of Babylon, Deep Purple, Scorpions, sampai Kansas. Dari daftar lagunya aja ketahuan, dia memang tergila-gila sama Ritchie Blackmore.
"Waktu saya umur 10 tahun, gitaris rock yang saya denger terus cuma Blackmore. Gak ada yang lain," kata Yngwie waktu itu sambil menyeruput kopi mix dan nolak donat yang disodorin.
Yang lucu, dia suka menyangkal pengaruh Hendrix dan Uli Jon Roth. Padahal di album Inspirations ada lagu Hendrix.
Kata Yngwie, "Saya lihat Hendrix di TV waktu umur 7 tahun. Dan hari dia meninggal, mereka putar video dia membakar gitarnya, dan itu yang bikin saya pengen main gitar."
Padahal ironisnya, di cover albumnya sendiri Trial By Fire - Live In Leningrad tahun 1989, Yngwie meniru gaya fenomenal Jimi Hendrix itu: membakar gitar.
Di akhir obrolan, Yngwie tetap mengelu-elukan pahlawan sejatinya. "Waktu kecil, pahlawan terbesar saya adalah Johann Sebastian Bach, Vivaldi, dan Nicolo Paganini."
Itulah Tuan Malmsteen. Di luar terlihat arogan, di dalam ternyata kutu buku musik klasik.
Sumber tulisan: Dennysakrie63's Blog - Rumah Musik Denny Sakrie
Irman


