IRON MAIDEN Sang Preman, Sang Pilot Tempur, dan Sang Korban yang Dibenci Fans
MUSIK dan INSPIRASI
IRON MAIDEN
Sang Preman, Sang Pilot Tempur, dan Sang Korban yang Dibenci Fans
Vokalis Era Pra-Rekaman (1975–1978):
Sebelum merilis album rekaman resmi, posisi vokal sempat diisi oleh Paul Mario Day (vokalis pertama saat band dibentuk tahun 1975) dan Dennis Wilcock (1976–1978) yang terkenal dengan aksi panggung teatrikalnya menggunakan darah buatan.
3 Vokalis Iron Maiden: Tiga Suara, Tiga Takdir, Satu Eddie
1. PAUL Di'ANNO (1978-1981) - Sang Preman Punk
Vokalis rekaman pertama. Suaranya bukan suara metal opera, tapi suara punk jalanan London Timur. Serak, agresif, liar, dan penuh amarah.
Dia yang menyanyikan 2 album pertama: _Iron Maiden_ (1980) dan _Killers_ (1981). Lagu seperti "Running Free", "Phantom of the Opera", dan "Wrathchild" tidak akan punya gigi kalau bukan karena vokal Di'Anno.
Dia adalah pelopor New Wave of British Heavy Metal (NWOBHM). Tapi gaya hidupnya menghancurkan dia. Narkoba, alkohol, tidak pernah tepat waktu. Setelah 269 pertunjukan, dia dipecat 10 September 1981 di Copenhagen.
Blaze Bayley, yang juga pernah menggantikan Bruce, bilang: "Paul was more of a legend than Bruce. Itu yang bikin Maiden spesial."
Paul terus tur dengan nama Di'Anno sampai akhir hidupnya. Dia meninggal 21 Oktober 2024 di umur 66.
2. BRUCE DICKINSON (1981-1993 & 1999-Sekarang) - The Air Raid Siren
Masuk 6 minggu setelah Di'Anno dipecat, debut di Bologna. Bruce mengubah Maiden dari band klub jadi monster arena.
Julukannya "The Air Raid Siren" karena suaranya bisa melengking tinggi seperti sirine serangan udara. Opera, powerful, dan teatrikal. Debutnya langsung _The Number of the Beast_ (1982) - album yang menjual Maiden ke seluruh dunia.
Di eranya lahir album-album emas: _Piece of Mind (1983), Powerslave (1984), Somewhere in Time (1986), Seventh Son of a Seventh Son (1988)_. Dia juga pilot asli, penulis buku, dan anggar. Di panggung, dia berlari dari ujung ke ujung selama 2 jam tanpa habis napas. Sampai hari ini dia sudah tampil 1.688 kali bersama Maiden.
Tahun 1993 dia keluar, merasa terkekang. Dia bikin karir solo _Tattooed Millionaire_. Tapi solo-nya tidak meledak, dan Maiden tanpa dia juga tenggelam.
Tahun 1999 dia kembali bersama gitaris Adrian Smith. Sejak itu Maiden bangkit lagi dengan _Brave New World (2000)_ sampai _Senjutsu (2021)_. Total jualan Maiden: lebih dari 130 juta copy.
3. BLAZE BAYLEY (1994-1999) - Sang Korban Grunge
Inilah era paling kelam yang sering dibenci fans, tapi harus ada.
Ketika Bruce cabut, 200 orang audisi. Yang terpilih adalah vokalis Wolfsbane, Blaze Bayley. Suaranya beda 180 derajat dari Bruce. Lebih berat, lebih bariton, lebih gelap, dan agak grunge. Cocok dengan era 90-an saat heavy metal sedang mati.
Dia rekam 2 album: _The X Factor (1995)_ dan _Virtual XI (1998)_. Albumnya eksperimental, suram, dan personal. Lagu seperti "Man on the Edge" dan "Futureal" sebenarnya bagus, tapi fans menolak karena membandingkan terus dengan Bruce. Penjualan anjlok, 217 konser, dan dia dipecat di akhir tur 1998.
Blaze sendiri bilang era itu membuatnya depresi berat. Tapi justru dia yang menjaga agar nama Iron Maiden tetap hidup saat semua band metal 80-an mati di era grunge. Tanpa Blaze, mungkin Maiden bubar permanen tahun 1994
*Kesimpulan:* Steve Harris pernah bilang, Maiden itu seperti sepakbola. Di'Anno adalah striker jalanan yang liar. Bruce adalah kapten timnas yang membawa piala. Blaze adalah pemain pengganti yang masuk saat tim hampir degradasi dan tetap bermain meski dicaci.
Irman



