DOKUMEN RAHASIA: LAKON ASAP DAN CERMIN Anatomi Kudeta Senyap: Bagaimana Republik Dirampok Saat Kita Sibuk Menonton Sirkus
SUARA REDAKSI
DOKUMEN RAHASIA: LAKON ASAP DAN CERMIN
Anatomi Kudeta Senyap: Bagaimana Republik Dirampok Saat Kita Sibuk Menonton Sirkus
Kota ini selalu menyukai pertunjukan yang berisik. Di bawah rintik hujan dan lampu jalanan yang temaram, publik berkumpul di alun-alun, menengadah melihat kembang api politik meledak di langit. Namun, dalam dunia kejahatan tingkat tinggi, ada satu aturan emas yang tak pernah usang: ketika semua mata tertuju pada kilat di langit, seseorang, di suatu tempat, sedang membobol pintu belakangmu.
Di Tiongkok kuno, mereka menyebutnya Sheng Dong Ji Xi Berisik di Timur, Menyerang di Barat. Di jalanan republik ini hari ini, kita menyebutnya Weaponized Distraction. Pengalihan isu yang dipersenjatai.
Ini adalah catatan forensik dari sebuah pembajakan negara. Sebuah operasi brutal yang dieksekusi dengan keanggunan yang mematikan.
Bab I: Sirkus di Halaman Depan ("Keributan di Timur")
Mereka melempar umpan, dan kita menelannya hingga ke kailnya. Drama demi drama dilempar ke tengah jalanan yang basah. Kita disuruh menguliti keabsahan sebuah ijazah tua, membedah misteri akun anonim bernama Fufufafa, hingga bersorak menyoroti pertikaian elite picisan antara Jusuf Hamka dan Hary Tanoe, atau Gus Lilur dan Gus Ipul.
Lalu, sebagai puncak teater, Rocky Gerung dibiarkan melenggang masuk ke Istana. Lampu kamera berkedip, mesin tik jurnalis berderak, dan warung-warung kopi dipenuhi asap rokok serta perdebatan panas. Ilusi itu bekerja dengan sempurna: publik merasa mereka sedang hidup di alam demokrasi yang beringas, merasa sedang "melawan" kekuasaan. Padahal, amarah massa itu telah dialirkan ke dalam selokan buntu. Kita mengira sedang mengawasi para penguasa, nyatanya kita hanya sedang menonton bayangan yang menari di dinding, sengaja dibuat untuk menguras sisa-sisa kewarasan.
Bab II: Eksekusi di Ruang Kedap Suara ("Serangan di Barat")
Saat kerumunan di Timur masih sibuk berteriak, operasi sesungguhnya berjalan di Barat. Di sana tidak ada sorot kamera, tidak ada perdebatan berisik, hanya stempel yang beradu dengan kertas dan deru mesin pengeruk tanah yang menelan hutan. Karena semua watchdog sedang sibuk menggonggongi tulang mainan, para pencuri besar leluasa menguras isi brankas.
Di ruang-ruang dingin itu, kekuasaan ekstraktif dikunci rapat. Bahlil Lahadalia dilantik untuk memegang dua kunci gembok sekaligus: Menko Hilirisasi dan Menteri ESDM. Kekuasaan mutlak atas urat nadi bumi nikel, batu bara, perizinan tambang kini berada di satu tangan. Check and balance telah mati terbunuh, jasadnya disembunyikan di bawah karpet merah birokrasi.
Mari kita lihat peta yang berdarah di luar Jakarta. Di ujung timur Papua, narasi "Proyek Strategis Nasional" (PSN) dikumandangkan bagai lagu pengantar tidur tentang ketahanan pangan. Megaproyek Food Estate di Merauke menargetkan jutaan hektare lahan. Namun di balik layar proyektor itu, ekskavator secara senyap merobek hak ulayat masyarakat adat sebuah eksekusi sistematis yang beroperasi dalam kegelapan, jauh dari jangkauan radar pengawasan publik nasional.
Geser lensa ke Sulawesi Selatan. Karpet merah dibentangkan menembus hutan dan lahan produktif. Wilayah konsesi ekstraktif, khususnya tambang nikel di Luwu Timur dan kawasan industrinya, diperluas tanpa ampun. Ruang hidup warga menyusut drastis, diserahkan demi melayani mesin hilirisasi yang dirancang khusus untuk memuaskan dahaga segelintir konglomerat.
Siapa yang menjaga operasi penggusuran raksasa ini? Mereka tidak memakai preman bayaran. Wajah reformasi agraria telah dimutasi menjadi operasi keamanan bersenjata. Jenderal-jenderal polisi aktif ditarik masuk ke jantung istana Listyo Sigit di pucuk Kepala Staf Kepresidenan, Dedi Prasetyo memegang kendali Badan Reforma Agraria. Seragam cokelat kini menjadi tameng untuk memastikan pembebasan lahan PSN berjalan tanpa hambatan. Neo-dwifungsi telah bangkit dari kuburnya, berdiri tegak sebagai anjing penjaga aset para bos besar.
Sebagai tempat bernaung, Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) direnovasi menjadi safe house mewah berfasilitas APBN. Dua puluh enam kursi disediakan untuk menampung para naga triliuner dan makelar politik seperti Qodari dengan aset ratusan miliarnya berkumpul di satu meja bundar. Sindikat ini kini sepenuhnya berlindung di balik perisai konstitusi.
Bab III: Pagi yang Dingin dan Kebenaran Telanjang
Kembang api akhirnya padam. Asapnya menipis, menyisakan bau mesiu murahan dan kabut pagi yang dingin. Kebenaran telanjang itu kini tergeletak di jalanan: transisi yang baru saja terjadi bukanlah pergantian rezim. Ini adalah upgrade kapasitas dari sebuah sistem State Capture pembajakan negara yang dilembagakan.
Demokrasi dibiarkan hidup, namun hanya sebagai cangkang peluru yang telah ditembakkan. Para arsitek kekuasaan menyadari, mereka tidak perlu lagi membungkam aktivis dengan laras senapan seperti di era Orde Baru. Cukup tenggelamkan publik dalam tsunami informasi yang tidak relevan.
Republik ini telah diakuisisi, dirombak layaknya perusahaan tertutup (private equity). Saat rakyat jelata di jalanan masih saling caci memperebutkan moralitas, satir, dan ijazah usang, kelompok elite di ruang belakang telah selesai membagi-bagi peta konsesi di Sulawesi, mengklaim tanah adat di Papua, membariskan aparat sebagai satpam korporasi, dan mengunci setiap instrumen hukum.
Kita baru sadar saat fajar menyingsing. Keriuhan telah usai, dan kita menatap kosong ke arah rumah kita di Barat, baru menyadari bahwa sertifikatnya telah berpindah nama, dan kita sendirilah yang menyoraki proses perampokannya.
RED


