𝗣𝗔𝗡𝗖𝗘 𝗣𝗢𝗡𝗗𝗔𝗔𝗚 — 𝗦𝗼𝘀𝗼𝗸 𝗱𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶𝗸 𝗕𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸 𝗟𝗮𝗴𝘂 𝗞𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻
INSPIRASI
𝗣𝗔𝗡𝗖𝗘 𝗣𝗢𝗡𝗗𝗔𝗔𝗚 — 𝗦𝗼𝘀𝗼𝗸 𝗱𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶𝗸 𝗕𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸 𝗟𝗮𝗴𝘂 𝗞𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻
Ada nama yang mungkin tidak selalu muncul di ingatan kita ketika mendengar sebuah lagu.
Tapi begitu lagunya diputar, kita langsung tahu:
“Oh… lagu ini.”
Nama itu adalah Pance Pondaag.
Lahir di Makassar pada 18 Februari 1951, Pance dikenal sebagai penyanyi sekaligus pencipta lagu yang sangat menonjol pada era 1980-an. Lagu-lagu ciptaannya ikut mengangkat nama sejumlah penyanyi pada zamannya, termasuk Dian Piesesha, Meriam Bellina, dan Maya Rumantir.
Salah satu yang paling melekat tentu “Tak Ingin Sendiri”, yang dinyanyikan Dian Piesesha. Lagu ciptaan Pance ini menjadi salah satu karya yang sangat dikenal dari era tersebut dan kemudian hadir dalam berbagai versi.
Lalu ada “Kucari Jalan Terbaik”, “Untuk Sebuah Nama”, “Walau Hati Menangis”, hingga “Demi Kau dan Si Buah Hati”.
Menariknya, “Demi Kau dan Si Buah Hati” bahkan dibuat sebagai kelanjutan kisah dari lagu “Kerinduan” yang sebelumnya dinyanyikan Meriam Bellina.
Pada masa itu, lagu-lagu Pance bukan sekadar terdengar di radio atau kaset.
Ia hadir di televisi, di rumah-rumah, di perjalanan, dan dalam kisah cinta banyak orang.
Pance Pondaag meninggal dunia pada 3 Juni 2010, dalam usia 59 tahun. Namun karya-karyanya masih membawa kita kembali kepada satu masa ketika lagu tentang rindu, perpisahan, kesetiaan, dan air mata begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mungkin kita tidak lagi mengingat kapan pertama kali mendengar lagu-lagu itu.
Tapi sering kali, kita masih ingat perasaan yang muncul ketika mendengarnya.
Pance Pondaag.
Sosok di balik begitu banyak kenangan.
Red


