Ngedrum menggunakan kaki palsu.. Kisah Perjalanan Sang Legenda: Jimmie Manopo dan Gema Drum The Rollies
0 menit baca
INSPIRASI dan MUSIK
Ngedrum menggunakan kaki palsu..
Kisah Perjalanan Sang Legenda: Jimmie Manopo dan Gema Drum The Rollies
👉Awal Langkah dan Dentum Otodidak dari Bandung
Perjalanan hidup Jimmie Manopo di dunia musik bermula dari lingkungan rumah yang penuh dengan harmoni. Lahir di Palembang dari keluarga asal Minahasa (Manado), Jimmie tumbuh besar di Bandung. Di rumahnya, kakak-kakaknya sering mengadakan latihan band dan pesta. Dari sanalah ketertarikan Jimmie kecil terhadap alat musik mulai tumbuh.
Tanpa melalui pendidikan musik formal, Jimmie mempelajari musik secara otodidak. Alat musik pertamanya adalah gitar, kemudian organ, hingga akhirnya ia menemukan belahan jiwanya di balik set drum. Kepiawaiannya bermain gitar bahkan membuatnya sudah dipercaya mengajar murid yang usianya jauh lebih tua saat ia masih duduk di bangku SMP.
Pada usia 14 tahun (sekitar tahun 1967), Jimmie sudah terjun ke dunia profesional dengan bermain drum di nightclub kawasan Bandung. Kehidupannya saat remaja dipenuhi kedisiplinan yang luar biasa: bermain musik hingga pukul dua dini hari, terbangun pukul lima pagi, dan sudah harus bersiap di bangku sekolah pada pukul tujuh pagi.
Ia membagikan kenangan unik di masa-masa awal kariernya ketika diberi pilihan honor berupa nasi bungkus atau uang tunai Rp250. Jimmie memilih makan terlebih dahulu di rumah agar bisa membawa pulang uang Rp250 yang nilainya saat itu cukup berarti baginya.
👉Hijrah ke Jakarta dan Momen Haru Bersama The Rollies
Setelah bertahun-tahun mengasah jam terbang di nightclub Bandung dan tampil di TVRI sejak era akhir 1960-an, Jimmie melangkahkan kakinya hijrah ke Jakarta. Di ibu kota, jadwal panggungnya semakin padat. Sering kali ia diminta menjadi drummer pengganti, bahkan pernah bermain drum maraton dari siang hingga dini hari selama tiga hari berturut-turut.
Karier musiknya melesat ketika diajak bergabung dengan grup band brass-rock ternama Tanah Air, The Rollies. Anak-anak The Rollies mendatanginya dengan semangat kebersamaan yang tulus: "Kalau miskin kita miskin sama-sama, kalau kaya kita kaya sama-sama."
Momen paling membekas dalam hidup Jimmie terjadi pada konser pertamanya bersama The Rollies di Gedung Mangkubumi, Bandung. Saat naik ke panggung dan duduk di balik drum, ia menyaksikan gedung dipenuhi lautan penonton yang menyambut kehadiran mereka dengan luar biasa. Gemuruh tepuk tangan dan dukungan penonton membuat Jimmie meneteskan air mata haru di balik drumnya—merasa sangat bersyukur diterima di dalam grup legendaris tersebut.
👉Kiprah di TVRI, Pencipta Lagu, dan Penyanyi Solo
Selain memperkuat fondasi irama The Rollies hingga era 1990-an, Jimmie juga aktif mengisi program Telerama di TVRI setiap pekan. Berbekal keberanian dan kemauan belajar yang tinggi, Jimmie yang awalnya tidak bisa membaca notasi musik berhasil membuktikan kemampuannya membuat aransemen musik untuk berbagai penampil.
Bakatnya tidak berhenti di balik stik drum. Secara tidak sengaja, vokalnya terdengar oleh seorang produser rekaman saat ia sedang menggarap lagu di studio. Sang produser terpikat oleh warna suaranya dan menawarkan kontrak rekaman solo.
Dari ketidaksengajaan tersebut, Jimmie berhasil melahirkan 5 album solo dan menciptakan hampir 200 lagu. Beberapa karyanya yang sangat dikenal publik antara lain Dewi Angan-Angan (yang pernah dijadikan lagu wajib ajang kompetisi bernyanyi), Dunia yang Termoda, dan Jalinan Kasih.
👉Ujian Hidup dan Semangat Pantang Menyerah
Di balik gemerlap panggung hiburan, Jimmie harus menghadapi ujian berat dalam hidupnya. Di tengah situasi pandemi, ia mengalami infeksi berat pada kakinya yang berawal dari luka kecil. Infeksi tersebut merambat cukup parah sehingga tim medis harus mengambil tindakan tegas dengan mengamputasi kakinya hingga setengah betis untuk menyelamatkan nyawanya.
Awalnya, Jimmie sempat terkejut dan merasa terpukul ketika menyadari bagian kakinya telah hilang lebih dari yang ia bayangkan. Namun, mental seorang seniman sejati tak pernah padam. Semangat hidupnya kembali membara setelah melihat video musisi drum luar negeri yang tetap lihai menggebuk drum menggunakan kaki protesa (kaki palsu).
Didorong oleh rasa cinta pada musik serta dukungan tak terhingga dari keluarga dan sahabat-sahabat musisi senior (seperti Jelly Tobing dan rekan-rekan sesama seniman), Jimmie bangkit dari keterpurukan. Ia membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah mampu menghentikan ritme dan ketukan semangatnya untuk terus bermusik.
Red


