BREAKING NEWS
Kredit Perdagangan Bank Kuningan Daftar Angsuran Kredit Bank Kuningan

Makam Sentot Alibasyah Prawirodirjo, sang panglima perang muda andalan Pangeran Diponegoro

 SEJARAH dan BUDAYA



Makam Sentot Alibasyah Prawirodirjo, sang panglima perang muda andalan Pangeran Diponegoro


BENGKULU, Aktualid.com – Kota Bengkulu tidak hanya kaya akan pesona wisata alamnya, tetapi juga menyimpan jejak sejarah perlawanan bangsa yang sangat bernilai. Salah satu situs bersejarah yang paling dihormati di Bumi Rafflesia ini adalah Makam Sentot Alibasyah Prawirodirjo, sang panglima perang muda andalan Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa (1825–1830).


Situs yang terletak di Kelurahan Bajak, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu ini kini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional. Makam ini menjadi saksi bisu akhir perjalanan hidup seorang ahli strategi militer yang ditakuti oleh kolonial Belanda.



Singa Perang Jawa yang Berakhir di Bengkulu

Sentot Alibasyah lahir pada tahun 1808 dengan nama asli Sentot Prawirodirdjo. Di usia yang masih sangat belia, yakni 17 tahun, ia sudah dipercaya oleh Pangeran Diponegoro untuk memimpin pasukan berkuda (Pandud Careang). Kecerdasan taktik militer dan keberaniannya di medan laga membuatnya dihormati sekaligus ditakuti musuh.


Setelah Perang Diponegoro mereda akibat tipu muslihat Belanda, Sentot sempat dikirim ke Sumatra Barat untuk membantu membendung perlawanan Kaum Paderi. Namun, jiwa patriotismenya tidak pernah luntur. Di tanah Minang, ia justru secara rahasia melakukan koordinasi dengan pasukan Tuanku Imam Bonjol untuk berbalik menyerang Belanda.


Tonton Video Terkait: Bagi Anda yang ingin melihat langsung kondisi visual dan ulasan mendalam mengenai situs bersejarah ini, silakan klik tautan berikut: Nonton Video Lengkap Makam Sentot Alibasyah di Channel YouTube Jejak Lensa Petualang.


Siasat pembelotan tersebut akhirnya terendus oleh pihak kolonial. Karena dianggap terlalu berbahaya jika dikembalikan ke Pulau Jawa, Belanda memutuskan untuk mengasingkan Sentot Alibasyah ke Bengkulu pada tahun 1833. Di tempat pengasingan inilah ia menghabiskan sisa hidupnya sebagai tokoh agama dan penyebar Islam hingga wafat pada 17 April 1855.


Arsitektur Khas dan Wisata Religi

Makam Sentot Alibasyah memiliki keunikan tersendiri dibandingkan makam pahlawan lainnya. Cungkup makam ini dibangun dengan sentuhan arsitektur lokal berbentuk pilar-pilar Tabot bercat putih, yang mencerminkan integrasi budaya dan rasa hormat yang mendalam dari masyarakat Bengkulu terhadap sang pahlawan.


Hingga saat ini, kompleks makam ini terus ramai dikunjungi oleh peziarah, pelajar, hingga peneliti yang ingin mengenang dan mempelajari heroisme sang panglima.


Dedy Hartono 

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image