Di Balik Rasa Manis Gula dan Asin Garam: Seni Sebab-Akibat Membantah Dogma Ketuhanan yang Subjektif
INSPIRASI
Di Balik Rasa Manis Gula dan Asin Garam: Seni Sebab-Akibat Membantah Dogma Ketuhanan yang Subjektif
KUNINGAN -Aktuakid.com Perdebatan lama tentang keberadaan Tuhan kembali mencuat. Sebuah doktrin populer menyebut "adanya Tuhan tergantung orangnya dan tidak bisa dibuktikan secara empirik." Pernyataan ini kini digugat dengan pisau analisa seni sebab-akibat.
Filsafat ilmu mengenal dalil sederhana: Akidah adalah ilmu, dan ilmu itu sendiri adalah akidah. Keduanya tidak bisa dipisahkan.
*Membongkar Mitos Subjektivitas Tuhan*
Anggapan bahwa Tuhan itu subjektif adalah bentuk dogma baru yang melawan logika itu sendiri. Ilmu pengetahuan tidak pernah berdiri di atas subjektivitas.
"Jika kita mengatakan gula itu manis dan garam itu asin, kita percaya tanpa perlu laboratorium. Kenapa? Karena indra dan nalar kita bekerja bersamaan," ujar seorang pakar epistemologi Islam, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A., dalam sebuah kajian filsafat.
Logika ini disebut *aksiomatis*. Sesuatu yang ditangkap indra, diverifikasi oleh logika, dan diterima sebagai kebenaran universal. Tidak ada orang yang berdebat rasa asin garam tergantung persepsi.
Lalu mengapa untuk keberadaan Pencipta, standar itu diubah menjadi subjektif?
*Bukti Empirik Dua Jenis*
Kesalahan umum adalah menyempitkan makna empirik hanya pada "yang bisa dilihat mata".
Dalam kaidah ilmu, bukti empirik terbagi dua:
1. *Empirik Indrawi-Nalari:* Bisa ditangkap indra dan bisa ditangkap nalar. Contohnya gula manis dan garam asin. Kita rasa dan kita nalar.
2. *Empirik Nalari-Metafisik:* Tidak bisa ditangkap indra mata, tapi wajib ditangkap nalar logika. Contohnya akal, gravitasi, dan cinta.
"Keberadaan akal tidak bisa dilihat, tapi tidak ada yang menolak keberadaan akal karena efeknya ada," tambah pakar logika.
*Hukum Sebab-Akibat: Dari Tidak Ada Menjadi Ada*
Inilah puncak seni sebab-akibat yang meruntuhkan dogma.
Setiap yang terlihat pun diawali dari keberadaan. Mustahil ada akibat tanpa sebab. Ini adalah hukum kausalitas yang menjadi fondasi seluruh sains.
Manusia adalah bukti paling empirik. Kita semua berawal dari *tidak ada, kemudian menjadi ada*.
Secara logika murni:
- Sesuatu yang tidak ada, tidak mungkin mengadakan dirinya sendiri.
- Sesuatu yang ada, pasti ada yang mengadakan.
- Rantai pengadaan ini tidak mungkin tak berujung (infinite regress), harus berhenti pada satu Sebab Utama yang tidak diadakan, yang mengadakan segalanya.
"Mustahil ada tulisan tanpa ada yang menulis. Mustahil ada bangunan tanpa ada pembuatnya. Alam semesta yang jauh lebih kompleks dari tulisan dan bangunan, mustahil ada tanpa Pencipta," tegas Imam Al-Ghazali dalam kitab Tahafut Al-Falasifah yang sering dikutip para ulama logika.
*Kesimpulan*
Maka, mengatakan Tuhan itu subjektif adalah kontradiksi. Ia melawan seni sebab-akibat, melawan akal sehat, dan melawan definisi ilmu itu sendiri.
Kepercayaan bahwa gula itu manis adalah ilmu. Kepercayaan bahwa garam itu asin adalah ilmu. Dan kepercayaan bahwa keberadaan kita yang dari tiada menjadi ada pasti ada Yang Maha Mengadakan, itulah akidah yang paling ilmiah.
Akidah bukan dogma buta. Akidah adalah puncak dari logika.
Santos Johar


