BREAKING NEWS
Kredit Perdagangan Bank Kuningan Daftar Angsuran Kredit Bank Kuningan

“Tikus paling berbahaya bukan yang merusak bendera, tetapi yang berlindung di baliknya sambil menggerogoti negeri.”

 MIMBAR REDAKSI



“Tikus paling berbahaya bukan yang merusak bendera, tetapi yang berlindung di baliknya sambil menggerogoti negeri.”


Pada sebuah negeri yang sedang merayakan kemerdekaan, bendera dikibarkan di setiap sudut. Merahnya tampak gagah, putihnya tampak suci. Di bawah salah satu bendera, seekor tikus bersembunyi sambil menggigit karung persediaan rakyat. Ketika orang-orang datang, ia segera berdiri tegak di dekat tiang dan berkata, “jangan curiga kepadaku, lihatlah, aku berada di bawah bendera.” Sejak saat itu, patriotisme memperoleh persoalan baru, ternyata simbol kebangsaan dapat menjadi tempat persembunyian bagi mereka yang justru menggerogoti bangsa.


Kemerdekaan memang mudah dirayakan sebagai seremoni, tetapi jauh lebih berat dijalankan sebagai etika. Erich Fromm membedakan kebebasan sebagai lepas dari belenggu dengan kebebasan untuk bertanggung jawab. Bangsa dapat merdeka dari penjajah asing, tetapi belum tentu merdeka dari kerakusan, korupsi, kolusi, nepotisme, dan hasrat memperkaya diri melalui kekuasaan. Penjajah lama mengambil kekayaan negeri dengan bendera asing; “penjajah baru” bisa mengambilnya sambil berdiri paling depan ketika menyanyikan lagu kebangsaan.


Di sinilah bendera harus dibaca bukan sekadar kain, melainkan amanah moral. Merah menuntut keberanian membela kepentingan bersama, putih menuntut kejernihan nurani. Persoalannya, tikus dalam cerita ini telah belajar semiotika politik: ia tahu simbol dapat dipakai untuk mengalihkan perhatian dari perilaku. Semakin keras ia berteriak tentang cinta tanah air, semakin pelan terdengar suara karung yang sedang digerogotinya. Nasionalisme lalu berbahaya ketika berubah dari kesediaan berkorban untuk negeri menjadi kemampuan menjadikan negeri sebagai alasan untuk memperoleh keuntungan.


Maka peringatan kemerdekaan seharusnya menjadi cermin, bukan sekadar panggung. Pertanyaannya bukan berapa banyak bendera telah dikibarkan, melainkan berapa sedikit hak rakyat yang digerogoti; bukan seberapa lantang pekik “Merdeka!”, melainkan apakah rakyat sungguh semakin merdeka dari ketidakadilan. Sebab tikus paling cerdik bukanlah tikus yang takut pada bendera, tetapi tikus yang belajar berlindung di baliknya -ikut upacara, hormat paling tegak, lalu setelah semua pulang kembali melanjutkan makan karung negara. Mungkin itulah sebabnya kemerdekaan perlu diperingati setiap tahun, bukan karena kita lupa tanggalnya, tetapi karena sebagian orang terlalu cepat lupa maknanya.


Yang pasti, tikus tidak akan ikut lomba balap karung; terlalu berisiko, sebab ia tahu persis isi karung dan berapa banyak yang sudah digerogotinya. Kalau menjadi panitia, mungkin ia bersedia: duduk di meja kehormatan, memegang peluit, memberi sambutan tentang sportivitas, lalu sibuk membuat laporan bahwa seluruh karung telah digunakan sesuai anggaran. Peserta pun melompat-lompat mengejar garis finis, sementara sang tikus tersenyum karena perlombaan paling menguntungkan memang bukan berlari di dalam karung, melainkan mengatur karung dari belakang meja.


Red

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image