BREAKING NEWS
Kredit Perdagangan Bank Kuningan Daftar Angsuran Kredit Bank Kuningan

Supriyono, atau yang akrab disapa Mas Botok,"Pati ora sepele." Pati tidak bisa dianggap enteng.

 TOKOH & INSPIRASI



Supriyono, atau yang akrab disapa Mas Botok,"Pati ora sepele." Pati tidak bisa dianggap enteng. 


Bukan lahir dari keluarga ningrat, bukan juga kader partai politik. Ia adalah warga biasa dari Dukuh Kaliampo, Desa Wangunrejo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.


Di luar hiruk pikuk aksi dan kamera, Mas Botok adalah pemilik Warung Kerang (WK) Kaliampo. Sebelum dikenal sebagai aktivis yang rekeningnya diblokir, ia lebih dulu dikenal sebagai tukang masak kerang yang dagangannya mungkin lebih enak daripada janji janji politik pejabat.


Di Pati, Mas Botok bukan nama baru, Sejak 2025, ia aktif mengkritik kebijakan Pemerintah Kabupaten Pati, terutama kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB-P2) yang mencapai 250 persen. Dari persoalan pajak, tuntutan massa berkembang menjadi tuntutan agar Bupati Pati saat itu, Sudewo, mundur.


Bersama rekannya Mas Teguh, Mas Botok menjadi motor Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), organisasi yang lahir dari keresahan warga yang merasa kebijakan daerah makin memberatkan. Menariknya, Mas Botok mengaku pernah mendukung Sudewo dalam Pilkada Pati 2024. Namun setelah Sudewo terpilih, Botok berbalik menjadi kritikus paling vokal. Katanya bukan masalah pribadi, tapi bentuk kepedulian. Seperti jatuh cinta lalu patah hati, tapi kali ini yang diputusin adalah kebijakan.


Perjuangan Mas Botok dan AMPB mencapai puncaknya pada 31 Oktober 2025, ketika DPRD Pati gagal menggulirkan hak angket untuk memakzulkan Bupati Sudewo.


Massa AMPB melakukan pemblokiran Jalan Pantura Pati-Juwana sebagai bentuk protes. Akibatnya, Mas Botok dan Mas Teguh ditangkap dengan tuduhan penghasutan dan pemblokiran jalan nasional.


Muncul dugaan kriminalisasi karena surat penangkapan diterbitkan jauh sebelum aksi terjadi. Tapi pada 5 Maret 2026, majelis hakim PN Pati menjatuhkan vonis 6 bulan penjara yang tidak perlu dijalani, dengan pidana pengawasan selama 10 bulan.


Mas Botok dan Mas Teguh langsung bebas dan disambut ribuan massa dengan teriakan "Pati Ora Sepele". Vonis yang terdengar seperti "kamu bersalah, tapi ya sudahlah." Sebuah pesan halus dari sistem "Kami tahu kamu salah, tapi kami tidak cukup yakin untuk memenjarakanmu.


21 Agustus 2026, Mas Botok bersama puluhan warga Pati tiba di Jakarta untuk mengawal aspirasi di depan Gedung DPR. Tuntutannya sederhana, RUU Perampasan Aset dan hukuman mati untuk koruptor.


Tapi saat rekeningnya yang berisi uang pribadi dan donasi warga sebesar Rp80,9 juta tiba-tiba diblokir. Bank Mandiri mengaku bertindak atas permintaan aparat. PPATK membantah. Polisi baru "mendalami". Akun TikTok dan WhatsApp nya pun ikut hilang.


Di sini ironinya, uang koruptor yang bersembunyi di rekening asing beratus-ratus miliar susah diutak-atik, tapi uang donasi aktivis Rp80 juta bisa diblokir dalam hitungan jam.


23 Agustus, Mas Botok pulang ke Pati, lalu sehari kemudian kembali lagi ke Jakarta dengan satu bus tambahan. Seperti kata pepatah "Kalau rekeningmu diblokir, jangan diam, kumpulkan lebih banyak orang."


24 Agustus, terjadi insiden "penangkapan" yang gagal. Massa di depan DPR melihat Mas Botok dibawa ke mobil dinas dan langsung panik. Padahal polisi hanya mau mengantarnya ke Polda untuk urus izin. Rencana batal karena massa terlalu ramai. Polisi tidak jadi membawa Mas Botok, karena massa mengira polisi membawa Mas Botok. Ini bukan penangkapan kata Polisi. 


Perjalanan Mas Botok dari pemilik warung kerang di Pati menjadi simbol perlawanan nasional adalah kisah yang nyaris seperti film. Ia bukan pahlawan dengan jubah, bukan aktifis karbitan. Ia hanya warga biasa yang memilih tidak diam, meski rumahnya bukan istana, dan modalnya hanya keberanian.


Kritiknya tajam, tapi ia tak mau disebut anti dialog. "Kami mengedepankan dialog," katanya. Tapi ia juga tegas, jika tuntutan tak dipenuhi, aksi tanggal 27 Agustus 2026 tetap jalan.


Di tengah gemerlap Jakarta, Mas Botok dan kawan kawan dari Pati datang dengan pesan sederhana "Kami bukan penguasa. Tapi kami berani bersuara."


Mas Botok mungkin bukan politikus ulung, bukan orator handal. Tapi ia memiliki satu hal yang hilang dari banyak pejabat, keberanian untuk tidak diam.


Rekeningnya diblokir, akun medsosnya hilang, busnya dilempar batu, dan nyaris "ditangkap" karena salah paham. Tapi ia tetap di sana, di depan pagar gedung DPR, di bawah terik Jakarta, dengan ribuan warga Pati di belakangnya.


"Kita bukan teroris, bukan melakukan kriminal. Teman teman di sini datang ke Jakarta untuk mengawal aspirasi masyarakat Indonesia," ujarnya.


Dan jika ada yang bertanya kenapa ia segigih ini, mungkin jawabannya sederhana: 


"Pati ora sepele." Pati tidak bisa dianggap enteng. 

Begitu pula dengan Mas Botok.

Red

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image