DOUWES DEKKER: DARI PERANG BOER HINGGA MENJADI PEJUANG KEMERDEKAAN INDONESIA
DOUWES DEKKER: DARI PERANG BOER HINGGA MENJADI PEJUANG KEMERDEKAAN INDONESIA
Namanya Ernest François Eugène Douwes Dekker. Lahir di Pasuruan pada 8 Oktober 1879, ia berdarah Indo-Eropa. Namun perjalanan hidupnya justru membawanya menjadi salah satu tokoh penting dalam lahirnya nasionalisme Indonesia.
Di usia muda, Douwes Dekker pernah pergi ke Afrika Selatan dan ikut dalam Perang Boer melawan Inggris. Ia bahkan sempat menjadi tawanan perang.
Sekembalinya ke Hindia Belanda, ia terjun ke dunia jurnalistik. Melalui tulisan-tulisannya, ia semakin keras mengkritik ketidakadilan dan sistem kolonial.
Tahun 1912 menjadi titik penting. Bersama dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara), ia mendirikan Indische Partij.
Mereka kemudian dikenal sebagai Tiga Serangkai.
Indische Partij berani menyuarakan persamaan hak dan gagasan bahwa Hindia seharusnya diperintah untuk kepentingan penduduknya sendiri. Sikap tersebut membuat pemerintah kolonial menganggap mereka berbahaya.
Pada 1913, Indische Partij dilarang. Ketiga tokohnya kemudian dibuang ke Belanda.
Namun pengasingan tidak menghentikan perjuangannya.
Douwes Dekker kemudian bergerak di bidang pendidikan, mendirikan dan mengembangkan lembaga pendidikan yang menanamkan semangat kebangsaan. Karena aktivitasnya, ia kembali mendapat tekanan dari pemerintah kolonial.
Pada 1942, ia ditangkap dan dibuang ke Suriname. Setelah Perang Dunia II berakhir, ia berusaha kembali ke Indonesia. Bahkan ia menggunakan identitas samaran untuk melewati berbagai hambatan sebelum akhirnya tiba di wilayah Republik.
Setelah kembali, namanya berubah menjadi Danudirja Setiabudi.
Di masa Republik Indonesia, ia dipercaya menduduki sejumlah jabatan pemerintahan. Tetapi perjuangannya belum berakhir. Dalam Agresi Militer Belanda II pada 1948, ia kembali ditangkap oleh Belanda.
Setelah dibebaskan, ia menetap di Bandung.
Pada 28 Agustus 1950, Ernest Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi wafat.
Ia bukan sekadar tokoh politik. Ia pernah menjadi wartawan, pejuang anti-kolonial, pendiri partai politik, pendidik, tahanan politik, orang buangan, hingga pejabat Republik Indonesia.
Yang menarik, ia memiliki darah Eropa—tetapi justru memilih berdiri melawan kolonialisme dan memperjuangkan kemerdekaan tanah kelahirannya.
Douwes Dekker membuktikan bahwa perjuangan untuk Indonesia tidak selalu datang dari satu golongan saja.
Sumber:
Ensiklopedia Sejarah Indonesia, Kementerian Kebudayaan RI
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI
Arsip dan kajian sejarah tentang Indische Partij dan Tiga Serangkai
Irman


