Di Balik Ageman Penuh Medali Sinuwun PB X: Siasat Politik Menghadapi Kompeni Belanda
SEJARAH & BUDAYA
Di Balik Ageman Penuh Medali Sinuwun PB X: Siasat Politik Menghadapi Kompeni Belanda
Surakarta,Aktualid.com Di balik ageman atau busana kebesaran Sinuwun Pakubuwono X yang dihiasi banyak medali, tersimpan sebuah tafsir sejarah mengenai strategi politik Keraton Surakarta dalam menghadapi kekuasaan kolonial Belanda.
Medali-medali yang melekat pada busana kebesaran tersebut tidak semata-mata dapat dibaca sebagai simbol penghormatan atau kedekatan dengan pemerintah kolonial. Dalam perspektif sejarah dan politik, penggunaan berbagai tanda kehormatan itu dapat ditafsirkan sebagai bagian dari strategi diplomasi: memperlihatkan sikap akomodatif di hadapan pemerintah kolonial, sembari menjaga ruang gerak Keraton untuk mempertahankan kepentingan dan kekuatan internalnya.
Strategi tersebut sering digambarkan sebagai politik “berdiri di antara dua kaki”. Di hadapan Belanda, Sinuwun menunjukkan sikap seolah-olah bersahabat, menghormati, dan menerima tatanan kolonial. Namun di balik sikap tersebut, Keraton tetap berupaya menjaga martabat, pengaruh, serta kekuatan sosial-politiknya.
Siasat semacam itu bukan tanpa alasan. Pengalaman Keraton sebelumnya menunjukkan bahwa perlawanan terbuka terhadap kekuasaan kolonial dapat berujung pada penangkapan dan pembuangan.
Salah satu contoh yang menjadi bagian penting dalam sejarah Keraton Surakarta adalah Sinuwun Pakubuwono VI, yang ditangkap oleh Belanda dan kemudian diasingkan ke Ambon hingga wafat dalam pengasingan.
Karena itu, menghadapi Belanda secara frontal bukan satu-satunya pilihan. Dalam kondisi kekuasaan kolonial yang begitu kuat, diplomasi, simbol, tata krama kerajaan, dan penampilan di hadapan penguasa kolonial dapat menjadi instrumen politik tersendiri.
Ageman dengan berbagai medali, dalam tafsir tersebut, justru memperlihatkan kecerdikan seorang penguasa dalam membaca situasi. Di depan kolonial terlihat tunduk pada tata hubungan kekuasaan, tetapi di baliknya tetap mempertahankan identitas, kewibawaan, dan kepentingan kerajaan.
Namun, pembacaan sejarah tersebut tetap perlu ditempatkan secara kritis. Tidak semua medali yang dikenakan PB X otomatis dapat dianggap sebagai bagian dari siasat untuk “mengelabui” Belanda. Sebagian merupakan tanda kehormatan yang memang diberikan oleh pemerintah kolonial sebagai bagian dari hubungan politik dan diplomatik pada masa itu. Karena itu, tafsir mengenai strategi politik di balik ageman tersebut perlu didukung sumber sejarah yang kuat.
Yang jelas, sejarah Keraton Surakarta menunjukkan bahwa menghadapi kolonialisme tidak selalu dilakukan melalui perang terbuka. Ada pula perlawanan melalui diplomasi, simbol, kebudayaan, dan kemampuan mempertahankan eksistensi kerajaan di tengah tekanan kekuasaan kolonial.
Sejarah tidak selalu berbicara melalui suara senjata. Terkadang, ia berbicara melalui pakaian, simbol, senyum, dan sikap seorang raja yang sedang memainkan strategi di hadapan kekuasaan yang jauh lebih besar.
Irman


