Dari “Bocor Alus” ke ancang-ancang Jokowi: membaca jejak Tempo menuju 2029
BERITA NASIONAL
Dari “Bocor Alus” ke ancang-ancang Jokowi: membaca jejak Tempo menuju 2029
Catatan Agus M. Maksum
JAKARTA — Aktualid.com Sebuah foto memperlihatkan Joko Widodo duduk dengan mikrofon terpasang, sementara tim Bocor Alus Tempo berada di sekelilingnya. Sekilas, gambar itu tampak seperti dokumentasi wawancara biasa.
Namun dalam perspektif open source intelligence (OSINT), foto tersebut bisa dibaca lebih jauh. Bukan semata tentang siapa bertemu siapa, melainkan kapan pertemuan berlangsung, berapa kali terjadi, dalam konteks apa, serta bagaimana pertemuan itu kemudian diterjemahkan menjadi produk editorial.
Pada 2026, tim Bocor Alus Tempo disebut dua kali menemui Jokowi di Solo. Pertama pada 22 Juli dalam pertemuan off the record. Kedua pada 11 Agustus dalam wawancara terbuka.
Beberapa waktu kemudian, muncul sampul majalah Tempo edisi 24–30 Agustus 2026 dengan judul besar:
“ANCANG-ANCANG JOKOWI.”
Subjudulnya pun menarik perhatian: wawancara eksklusif dengan Joko Widodo mengenai hubungannya dengan Presiden Prabowo Subianto, polemik ijazah palsu, serta manuver politik menuju 2029.
Di titik inilah jejak digital menjadi menarik untuk dibaca.
Sebab hubungan Tempo dengan Jokowi tidak berdiri di ruang hampa.
Dari figur perubahan menjadi objek kritik
Pada Pilpres 2014, sejumlah kajian akademik mengenai pemberitaan media mencatat adanya kecenderungan framing yang lebih positif terhadap Jokowi dan lebih kritis terhadap Prabowo. Jokowi kerap ditempatkan sebagai figur baru dalam politik, sementara Prabowo lebih sering diasosiasikan dengan politik lama dan kekuasaan.
Namun setelah Jokowi berada di Istana, posisi pemberitaan Tempo terhadap pemerintahannya berkembang.
Tempo mengkritik berbagai persoalan pemerintahan, termasuk isu KPK, janji politik, cawe-cawe, politik dinasti, Gibran Rakabuming Raka, Anwar Usman, hingga dinamika politik menjelang Pilpres 2024.
Bocor Alus Tempo sendiri pernah mengangkat tema mengenai “pertunjukan dinasti politik Jokowi”.
Jika rangkaian tersebut disusun sebagai garis waktu, terlihat perubahan posisi Jokowi dalam ruang pemberitaan:
2014 — Jokowi sebagai figur perubahan.
2019 — Jokowi sebagai objek kritik kekuasaan.
2023–2024 — Jokowi dan dinastinya sebagai objek investigasi serta kritik politik.
2026 — Jokowi kembali tampil sebagai aktor politik yang dikaitkan dengan peta menuju 2029.
Perubahan posisi inilah yang lebih menarik daripada sekadar pertanyaan apakah Tempo menyukai atau tidak menyukai Jokowi.
Bukan soal Tempo mendukung Jokowi
Tentu terlalu jauh jika rangkaian tersebut langsung disimpulkan sebagai bukti bahwa Tempo kembali menjadi pendukung Jokowi.
Belum ada dasar yang cukup untuk menarik kesimpulan sejauh itu.
Yang dapat diamati adalah perubahan posisi Jokowi dalam ruang editorial Tempo.
Jika sebelumnya Jokowi lebih banyak hadir sebagai objek kritik, kini ia kembali memperoleh akses langsung, wawancara eksklusif, sekaligus ruang sampul utama sebagai figur yang diposisikan relevan dalam peta politik menuju 2029.
Dan ada satu kata yang patut diperhatikan:
“Ancang-ancang.”
Kata tersebut bukan sekadar kata hiasan. Ancang-ancang berarti persiapan, mengambil posisi, atau bersiap menuju sesuatu.
Tempo sendiri mengarahkan pembacaan itu kepada satu titik waktu:
2029.
Maka pertanyaan OSINT tidak semestinya berhenti pada:
Apakah setelah kembali bertemu Jokowi, cara Tempo memberitakan Jokowi berubah?
Pertanyaan tersebut terlalu sederhana.
Pertanyaan yang lebih tajam adalah:
Mengapa setelah kembali memperoleh akses langsung kepada Jokowi, Tempo memberikan ruang editorial yang begitu besar untuk menempatkannya kembali sebagai aktor politik penting menuju 2029?
Tiga kemungkinan
Setidaknya terdapat beberapa kemungkinan yang dapat dibaca.
Pertama, news value.
Jokowi masih memiliki daya tarik politik dan pengaruh yang besar. Apa pun sikap politik terhadap dirinya, ia tetap merupakan figur dengan nilai berita tinggi. Karena itu, wawancara langsung dengan Jokowi memiliki nilai jurnalistik tersendiri.
Kedua, access strategy.
Dalam politik dan jurnalisme, akses merupakan mata uang penting.
Tokoh politik membutuhkan kanal untuk menyampaikan pandangan, sementara media membutuhkan akses kepada tokoh yang memiliki informasi, pengaruh, dan posisi strategis.
Pertemuan dua kepentingan tersebut tidak otomatis berarti adanya kesepakatan politik. Namun secara jurnalistik, akses langsung jelas memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak.
Ketiga, editorial repositioning.
Tempo mungkin sedang menempatkan Jokowi dalam perspektif yang berbeda: bukan semata sebagai mantan presiden yang menjadi objek kritik, tetapi sebagai aktor politik yang tetap memiliki pengaruh dan harus dibaca menjelang 2029.
Ketiganya bahkan bisa berjalan bersamaan.
Karena itu, belum waktunya menyimpulkan bahwa Tempo telah berubah menjadi pendukung Jokowi.
Namun satu hal sulit diabaikan:
Jokowi kembali mendapatkan panggung besar di Tempo.
Dan panggung itu bukan sekadar wawancara biasa.
Ia ditempatkan sebagai aktor politik yang arah pembacaannya secara eksplisit dikaitkan dengan 2029.
Membaca pola, bukan membuat tuduhan
Dalam kerja OSINT, sebuah peristiwa tidak cukup dibaca secara terpisah.
Pertemuan harus ditempatkan dalam kronologi. Produk editorial harus dibandingkan dengan konteks politik. Judul harus dibaca bersama momentum penerbitannya. Akses harus dibandingkan dengan framing.
Dari sana terbentuk pola:
akses → framing → amplifikasi → posisi politik.
Tetapi pola bukan otomatis bukti hubungan sebab-akibat.
Itulah batas penting dalam membaca OSINT.
Tidak semua pertemuan menghasilkan kesepakatan.
Tidak setiap wawancara menunjukkan keberpihakan.
Dan tidak setiap sampul majalah merupakan bagian dari agenda politik.
Namun ketika pertemuan, wawancara eksklusif, momentum politik, dan penempatan seorang tokoh sebagai figur menuju 2029 muncul dalam satu rangkaian waktu, publik memiliki alasan yang sah untuk mengajukan pertanyaan.
Bukan untuk membuat tuduhan.
Melainkan untuk menguji pola.
Siapa yang diberi panggung?
Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar apakah Jokowi masih berpengaruh.
Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana pengaruh tersebut kembali diposisikan dalam ruang publik.
Dalam perang informasi, publik jangan hanya membaca isi berita.
Baca siapa yang diberi panggung.
Baca seberapa besar panggung tersebut diberikan.
Baca kapan panggung itu diberikan.
Dan yang paling penting, baca ke mana panggung tersebut diarahkan.
Dalam kasus ini, arah tersebut tampak cukup jelas pada sampul:
2029.
Maka kesimpulan yang paling aman bukanlah bahwa Tempo telah kembali menjadi pendukung Jokowi.
Kesimpulan yang lebih terukur adalah bahwa Tempo kembali memberikan Jokowi ruang editorial yang besar sebagai aktor politik yang relevan menuju 2029.
Dan justru karena itulah pertanyaan OSINT berikutnya menjadi semakin menarik:
Apa yang sebenarnya berubah—Jokowinya, Temponya, atau peta politik menuju 2029?
Sebab mungkin persoalannya bukan siapa mendukung siapa.
Bisa jadi yang sedang berubah adalah cara para aktor politik dan media kembali menempatkan Jokowi di atas papan permainan.
Dan jika benar demikian, maka “ancangan” itu mungkin baru permulaan.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Jokowi penting bagi Tempo.
Pertanyaannya: mengapa kepentingan politik Jokowi kembali memperoleh ruang sebesar itu?


