BREAKING NEWS
Kredit Perdagangan Bank Kuningan Daftar Angsuran Kredit Bank Kuningan

Belajar dari Gus Dur: Pemimpin Harus Membumi dan Tidak Berjarak dengan Rakyat

 


Belajar dari Gus Dur: Pemimpin Harus Membumi dan Tidak Berjarak dengan Rakyat


KUNINGAN,Aktualid.com 17/08/2026— Salah satu pesan yang kerap dikenang dari sosok Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah ungkapan tentang “makan rumput liar”. Pesan tersebut bukan untuk dimaknai secara harfiah, melainkan sebagai sindiran sekaligus nasihat agar seorang pemimpin tidak kehilangan pijakan dan tetap mampu merasakan kehidupan rakyat kecil.


Dalam perspektif tersebut, kepemimpinan bukan sekadar berada di balik meja, menghadiri acara seremonial, atau tampil di hadapan publik. Seorang pemimpin dituntut hadir di tengah masyarakat, melihat langsung persoalan yang mereka hadapi, serta mendengar keluhan rakyat tanpa sekat kekuasaan.


Nilai itulah yang kemudian dikaitkan dengan sosok Dedi Mulyadi. Gaya kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat dinilai mencerminkan upaya untuk menghapus jarak antara pemimpin dan rakyat. Hadir di pasar tradisional, duduk di warung sederhana, berinteraksi dengan masyarakat bawah, hingga melihat persoalan kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari cara memahami realitas secara langsung.


Sebab, merakyat bukan semestinya berhenti sebagai pencitraan politik. Merakyat seharusnya menjadi sikap batin dan etika kekuasaan.


Pemimpin yang benar-benar membumi tidak cukup hanya mengetahui angka kemiskinan dari laporan statistik. Ia harus mengetahui bagaimana rasanya ketika harga kebutuhan pokok naik, ketika petani kesulitan mendapatkan pupuk, ketika pedagang kecil kehilangan pembeli, atau ketika masyarakat desa harus berjuang mendapatkan pelayanan dasar.


Gus Dur juga dikenal membawa visi kebangsaan yang melampaui sekat kelompok. Kekuasaan, dalam pandangan tersebut, semestinya digunakan untuk mengayomi seluruh rakyat, bukan menjadi alat untuk mengistimewakan golongan tertentu.


Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar slogan yang dibacakan dalam upacara. Keduanya harus menjadi dasar dalam mengambil keputusan, terutama ketika seorang pemimpin berhadapan dengan perbedaan agama, suku, budaya, kepentingan politik, maupun latar belakang sosial masyarakat.


Di sisi lain, kecintaan terhadap budaya lokal juga tidak boleh dianggap bertentangan dengan semangat kebangsaan. Justru sebaliknya, merawat identitas daerah merupakan bagian dari memperkaya Indonesia.


Akar budaya Sunda, misalnya, bukan sesuatu yang harus ditinggalkan ketika seseorang berada dalam lingkaran kekuasaan. Nilai kesantunan, kesederhanaan, gotong royong, penghormatan kepada sesama, dan kedekatan dengan alam dapat menjadi kekuatan moral dalam menjalankan pemerintahan.


Pada akhirnya, pesan “makan rumput liar” dapat dibaca sebagai kritik terhadap pemimpin yang terlalu nyaman di menara kekuasaan.


Sebab rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai berbicara tentang penderitaan mereka. Rakyat membutuhkan pemimpin yang mau turun melihat, mendengar, merasakan, dan kemudian mengambil keputusan berdasarkan kenyataan yang terjadi di lapangan.


Semoga pesan legendaris ini juga dapat ditransformasi dan diduplikasi oleh seluruh kepala daerah di Jawa Barat, termasuk Bupati Kuningan. Bukan sekadar meniru gaya atau penampilan seorang pemimpin, tetapi mengambil substansi terpentingnya: keberanian untuk turun dari menara kekuasaan, menyatu dengan rakyat, mendengar suara mereka, dan menjadikan kepentingan masyarakat sebagai orientasi utama pemerintahan.


Kekuasaan akan kehilangan maknanya ketika pemimpin mulai lupa dari mana ia berasal. Sebaliknya, kekuasaan akan menjadi bermartabat ketika pemimpin tetap mampu berdiri bersama rakyat,tanpa kehilangan keberanian untuk mengambil keputusan demi kepentingan seluruh bangsa.

Irman

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image