Tengku Amir Hamzah "PUISI-PUISINYA DIABADIKAN, NAMUN HIDUPNYA BERAKHIR TRAGIS"
Tengku Amir Hamzah "PUISI-PUISINYA DIABADIKAN, NAMUN HIDUPNYA BERAKHIR TRAGIS"
Di bangku sekolah, kita mengenal Tengku Amir Hamzah sebagai salah satu penyair terbesar Indonesia. Karya-karyanya seperti Nyanyi Sunyi dan Buah Rindu menjadi bagian penting dari sejarah sastra Indonesia. Tak heran jika ia dijuluki Raja Penyair Pujangga Baru.
Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa di balik indahnya bait-bait puisi itu, tersimpan kisah yang begitu pilu.
Setelah Indonesia merdeka, Amir Hamzah memilih berpihak kepada Republik Indonesia. Di tengah gejolak Revolusi Sosial Sumatra Timur tahun 1946, ia justru ditangkap oleh kelompok revolusioner. Pada 20 Maret 1946, ia dieksekusi dan dimakamkan bersama korban lainnya di sebuah kuburan massal di Kuala Begumit, Langkat. Bertahun-tahun kemudian, jasadnya berhasil ditemukan dan dipindahkan ke pemakaman yang layak.
Pengorbanannya baru mendapat pengakuan resmi ketika pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 106/TK/1975.
Kisah Amir Hamzah mengingatkan kita bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya diperjuangkan oleh mereka yang mengangkat senjata, tetapi juga oleh mereka yang mengangkat pena. Warisan puisinya tetap hidup, sementara pengorbanannya menjadi bagian dari sejarah bangsa yang tidak boleh dilupakan.
Sumber:
Ensiklopedia Sastra Indonesia – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikdasmen – Tokoh Amir Hamzah.
Tirto.id – Pembunuhan Amir Hamzah dan Sejarah Revolusi Sosial di Sumatra Timur.
M. Lah Husny, Biografi-Sejarah Pujangga dan Pahlawan Nasional Amir Hamzah (1978).
Red


