SEBELUM TALI DIKALUNGKAN, SADDAM MENOLAK PENUTUP KEPALA DAN MEMINTA AL-QUR'ANNYA DISERAHKAN KEPADA SESEORANG BERNAMA BANDER
SEBELUM TALI DIKALUNGKAN, SADDAM MENOLAK PENUTUP KEPALA DAN MEMINTA AL-QUR'ANNYA DISERAHKAN KEPADA SESEORANG BERNAMA BANDER
Subuh 30 Desember 2006, Baghdad masih gelap ketika Saddam Hussein memasuki ruang eksekusi di bekas markas intelijen militer Irak di kawasan Kazimiyah, lingkungan berpenduduk mayoritas Syiah di ibu kota. Ia mengenakan jas dan celana hitam, bukan pakaian tahanan. Di tangannya, ia menggenggam sebuah mushaf Al-Qur'an.
Itu bukan hanya soal apa yang ia kenakan. Itu adalah pilihan yang disengaja.
Pagi itu dingin di Baghdad. Ketika prosesi berlangsung, Saddam meminta agar mantelnya tidak dilepas karena ia tidak ingin tubuhnya menggigil karena kedinginan dan disangka gemetar karena takut. Menurut sejumlah laporan yang beredar luas, ia tidak ingin ada orang yang salah membaca bahasa tubuhnya di momen terakhir itu.
Sesaat sebelum tali dilingkarkan di lehernya, ia mengulurkan Al-Qur'an dan menyampaikan satu permintaan terakhir. Penasihat Keamanan Nasional Irak Mouwafak al-Rubaie, yang menyaksikan langsung jalannya eksekusi, mengutip permintaan itu: "Aku ingin Al-Qur'an ini diberikan kepada orang ini," kata Saddam, menyebut nama seseorang yang ia panggil Bander. Al-Rubaie mengaku tidak mengenal siapa yang dimaksud.
Satu hal yang dikonfirmasi langsung oleh rekaman video resmi dan kesaksian para saksi mata: Saddam menolak penutup kepala hitam yang biasa digunakan dalam prosedur standar hukuman mati. Ia ingin menghadapi kematian dengan wajah terbuka, tanpa kain yang menutupi pandangannya.
Di tiang gantungan, suasana jauh dari khidmat. Para penjaga berteriak mengejek. Chant memuji tokoh Syiah Muqtada al-Sadr bergema di ruangan. Seorang penjaga berteriak kepadanya: "Kamu telah menghancurkan kami. Kamu telah membunuh kami. Kamu membuat kami hidup dalam kesengsaraan." Saddam menjawab dengan tenang: "Aku telah menyelamatkan kalian dari kesengsaraan dan menghancurkan musuh kalian." Pertengkaran verbal berlanjut hingga detik-detik terakhir.
Hakim banding Munir Haddad, salah satu saksi eksekusi, mengatakan kepada BBC bahwa Saddam sempat berkata ia dan pengikutnya akan masuk surga, sementara musuh-musuhnya akan membusuk di neraka. Ia juga menyerukan pengampunan dan persatuan sesama warga Irak, namun sekaligus menekankan bahwa mereka harus terus melawan Amerika dan Persia.
Tepat sebelum tuas gantung dijatuhkan, ia melafalkan syahadat. Beberapa sumber mencatat kata-kata terakhirnya adalah "Allahu Akbar. Bangsa ini akan menang dan Palestina adalah Arab." Eksekusi dinyatakan selesai beberapa menit setelah pukul 06.00 waktu setempat.
Al-Rubaie, dalam pernyataannya kepada televisi negara al-Iraqiya, meringkas apa yang ia saksikan: "Saddam tidak meminta apa-apa." Lalu ia menambahkan satu catatan tentang Al-Qur'an dan permintaan kepada Bander itu.
Jenazah Saddam dikembalikan ke kampung halamannya di Al-Awja, dekat Tikrit, dan dimakamkan pada 31 Desember 2006, berdampingan dengan makam kedua putranya, Uday dan Qusay, yang tewas di tangan pasukan Amerika pada 2003.
Saddam Hussein berkuasa di Irak dari 1979 hingga jatuhnya rezimnya pada 2003 akibat invasi pimpinan Amerika Serikat. Ia dinyatakan bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan oleh pengadilan Irak, dalam perkara utama yang berkaitan dengan pembunuhan 148 pria dan anak laki-laki Syiah di kota Dujail pada 1982, menyusul percobaan pembunuhan terhadapnya. Ia dieksekusi 56 hari setelah vonis dijatuhkan, pada hari pertama Idul Adha 1427 H.
Irman


