Menatap sosok bersahaja dengan kacamata ikonisnya " Ebiet G. Ade bukan sekadar penyanyi beliau adalah seorang penyair,"
Menatap sosok bersahaja dengan kacamata ikonisnya " Ebiet G. Ade bukan sekadar penyanyi beliau adalah seorang penyair,"
"Masih ingatkah dengan masa di mana detak jarum jam dinding terasa begitu lambat, ditemani petikan gitar akustik dan suara berat Ebiet G. Ade yang mengalun dari radio tua? Menatap sosok bersahaja dengan kacamata ikonisnya ini, kita diajak untuk pulang sejenak, merenungkan arti kehidupan yang sering kali terlupakan di tengah bisingnya dunia hari ini."
Dalam sejarah musik Indonesia, ada satu nama yang tidak pernah mengejar gemerlapnya popularitas, namun karyanya justru abadi melintasi zaman. Beliau adalah Ebiet G. Ade. Beliau bukan sekadar penyanyi; beliau adalah seorang penyair, seorang pengembara rasa yang memilih dawai gitar sebagai pena untuk menuliskan catatan-catatan jujur tentang manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Siapa yang hatinya tidak bergetar setiap kali mendengar lirik puitis dalam lagu "Berita Kepada Kawan"? Atau baris kalimat penuh kepasrahan dalam "Camellia" dan "Untuk Kita Renungkan"? Sisi menarik dari beliau adalah bagaimana musiknya tidak pernah terasa usang. Ketika dunia luar sedang terasa melelahkan, mendengarkan lantunan suaranya selalu berhasil menjadi penenang jiwa yang magis. Musik beliau adalah pelukan hangat bagi siapa saja yang sedang mencari kedamaian dalam kesunyian.
Beliau mengajarkan kita untuk melihat sekitar—mendengar bisikan angin, meresapi nasehat ombak, dan membaca tanda-tanda zaman. Penampilan beliau yang selalu bersahaja sejak masa muda hingga kini adalah cerminan dari karya-karyanya: jujur, apa adanya, dan sangat membumi. Lewat lagunya, kita diajak untuk tidak hanya menikmati nada, tetapi juga berkaca pada diri sendiri tentang sejauh mana kita telah melangkah dan bersyukur.
Kini, waktu terus bergulir jauh ke depan. Namun, setiap kali lagu beliau kembali terdengar, ada rasa rindu mendalam yang mendadak hadir. Kerinduan pada suasana rumah masa kecil yang tenang, dan nasehat-nasehat bijak dari orang tua di masa lalu. Terima kasih, Ayahanda Ebiet G. Ade, karena telah menjadi penjaga nurani kami lewat untaian nada yang penuh dengan kedamaian.
Red


