Terjebak dengan keegoannya dan jerat tali malu dari kroni penjilat "
Terjebak dengan keegoannya dan jerat tali malu dari kroni penjilat "
Oleh : Irman Syamsul Bahri
Pemimpin Redaksi Aktualid.com
Sebelum menjadi penguasa,datang menghiba memelas suara pada khalayak masyarakat,dengan penuh janji dan lainnya sebagainya seakan ia akan siap menjadi pengayom,pelayanan dalam tatanan kehidupan kedepannya.
Pemanis dan sedikit sedekah walau tidak 100% iklas karena memberi sambil memohon imbalan suara.
Simpatipun datang dari keikhlasan yang tulus dengan nama yang sangat populer yaitu " Relawan "
Mereka para relawan berjibaku siang malam membawa misi menjual figur yang di usungnya,mereka tak peduli panas atau hujan bahkan cibiran dari mereka yang menolak,Berhati tulus teguh mereka terus berjuang demi masa yang di harapkan akan lebih baik demi terciptanya tatanan kehidupan secara luas dari seorang figur yang di anggap mampun mengelola tata pemerintahan.
Setelah tahta di raih dan waktu berjalan ternyata semua itu hanya topeng belaka,wajah dan sipat sebenarnya mulai di tampakan,dari ribuan ucapan " Selamat dan Sukses " dari para manusia yang selama itu tidur bahkan datang dari pihak pihak yang dulu kontra,Ia bangga " akulah penguasa ",dan secara perlahan ia memahami betapa nikmatnya hidangan kue kekuasaan yang saat ini muncul dengan berbagai resep serba di suguhkan kadang di bungkus denga tumpukan uang.
Keringat dan air mata yang dulu berjuang tidak lagi menjadi penting,mencoba melupakan secara sistematis dan akhirnya akan di kubur dari sekedar janji yang menghibur.
Pesta di mulai dengan Kroni dan suara suara merdu para penjilat,Ini awal kerangkeng yang sebenarnya bagi dia yang terlena dengan pujian dan buaian palsu.
Tanpa sadar apa yang di bentuk dalan membuat para pembantunya dari hasil jilatan dan suguhan berlimpah,menampar malu muka sendiri,Andai saja orang yang di beri kedudukan tak mempunyai kemampuan dan hilang wibawa,Titah penguasa tidak akan nyambung karena sang penyambung oleh masyarakat dianggap badud birokrat yang duduk di kursi jabatan dari hasil menjilat.
Mata rantai terus di bangun hingga ke tingkat jabatan terendah,namun tidak mempunyai bobot,ini akan berakhir dengan rasa malu yang akan di catat dalam memori masyarakat yang kecewa.
******


