BREAKING NEWS
Kredit Perdagangan Bank Kuningan Daftar Angsuran Kredit Bank Kuningan

Racun dalam Nadi Birokrasi: Membedah "Simbiosis Parasit" Patronase dan Kronisme " PEMKAB tidak lagi dipandang sebagai organisasi pelayanan publik, melainkan sebagai "kue tart"



 Racun dalam Nadi Birokrasi: Membedah "Simbiosis Parasit" Patronase dan Kronisme " PEMKAB tidak lagi dipandang sebagai organisasi pelayanan publik, melainkan sebagai "kue tart" 


Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa sebuah kebijakan publik yang krusial sering kali berakhir kacau di lapangan? Atau mengapa posisi-posisi strategis di lembaga basah sering diduduki oleh figur yang rekam jejaknya medioker, sementara talenta terbaik justru tersingkir ke sudut ruang arsip?

Jawabannya sering kali bukan pada kurangnya anggaran atau regulasi, melainkan pada dua hantu tua yang masih bergentayangan di koridor kekuasaan: Patronase dan Kronisme.

Keduanya bak saudara kembar yang berbeda wajah, namun memiliki satu tujuan yang sama: membunuh meritokrasi demi melanggengkan kekuasaan segelintir orang.

Patronase: Jual Beli Loyalitas

Mari kita bedah anatomi yang pertama: Patronase Politik.

Jika diibaratkan sebuah pasar, patronase adalah transaksi "dagang sapi" antara si kuat (Patron) dan si lemah (Klien). Ini adalah hubungan vertikal yang feodalistik. Sang Patron biasanya pejabat tinggi atau pemegang anggaran memberikan perlindungan, jabatan, atau proyek. Sebagai gantinya, sang Klien harus membayar dengan loyalitas mutlak, dukungan politik, atau bahkan setoran dana tak resmi.

Di sini, PEMKAB tidak lagi dipandang sebagai organisasi pelayanan publik, melainkan sebagai "kue tart" yang dibagi-bagi kepada para loyalis.

  "Kamu dukung saya saat PILKADA, maka saya pastikan karirmu aman, terlepas dari kompetensimu."

Inilah mantra patronase. Bahayanya? Pejabat yang diangkat melalui jalur ini tidak merasa bertanggung jawab kepada rakyat (publik), melainkan hanya kepada "Bos" yang mengangkatnya. Kinerja bukan diukur dari keberhasilan program, tapi dari seberapa senang sang Patron.

Kronisme: Lingkaran Setan Pertemanan

Bergeser ke saudara kembarnya: Kronisme.

Jika patronase adalah soal "Tuan dan Hamba", maka kronisme adalah soal "Kita dan Teman-Teman". Kronisme adalah praktik memberikan jabatan atau keuntungan ekonomi kepada teman dekat, kerabat, atau rekan satu lingkaran sosial, tanpa mempedulikan kualifikasi.

Dalam kronisme, trust (kepercayaan personal) dianggap lebih mahal daripada competence (kemampuan). Seorang pemimpin yang kronis akan merasa lebih aman dikelilingi oleh "orang-orang kita sendiri" daripada orang asing yang mungkin lebih pintar tapi kritis.

Dampaknya fatal. Ruang pengambilan keputusan menjadi "kamar gema" (echo chamber). Tidak ada kritik, tidak ada inovasi, dan tidak ada koreksi. Ketika krisis terjadi, para kroni ini sering kali tidak memiliki kapasitas teknis untuk menyelesaikannya, karena mereka dipilih berdasarkan kedekatan, bukan keahlian.

Mengapa Ini Mematikan Demokrasi?

Gabungan antara Patronase dan Kronisme menciptakan ekosistem yang toksik bagi sebuah PEMERINTAHAN

 * Kematian Meritokrasi: Orang pintar dan berintegritas akan frustrasi dan mundur karena sadar bahwa "jalur ordal" (orang dalam) lebih sakti daripada prestasi.

 * Inefisiensi Anggaran: Proyek diciptakan bukan karena kebutuhan rakyat, tapi untuk mengakomodasi "jatah" para kroni dan klien.

 * Korupsi Terlembaga: Karena hubungan didasarkan pada saling sandera kepentingan, pengawasan internal menjadi lumpuh. "Jeruk tidak mungkin makan jeruk."

Epilog: Memutus Rantai

Daerah, dan banyak Daerah lainnya, masih bergulat melawan warisan feodal ini. Patronase dan kronisme adalah musuh dalam selimut yang membuat birokrasi gemuk namun lamban, dan membuat kekayaan PEMKAB menguap tanpa bekas.

Reformasi bukan sekadar mengganti orang, tapi mengganti budaya. Selama kita masih memaklumi bahwa "membantu teman" atau "balas budi politik" dengan uang negara adalah hal yang lumrah, maka selama itu pula kita sedang merayakan kematian akal sehat dalam PEMERINTAHAN

PEMKAB butuh pelayan publik, bukan pelayan penguasa.

IRMAN


Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image