“Negara sering kali menjadi alat bagi segelintir orang untuk menguasai banyak orang.”
“Negara sering kali menjadi alat bagi segelintir orang untuk menguasai banyak orang.”
— Plato
Kutipan Plato ini menyoroti bahaya ketika negara tidak lagi berfungsi sebagai pelindung kepentingan bersama, melainkan berubah menjadi alat kekuasaan kelompok tertentu. Dalam kondisi seperti ini, struktur negara—hukum, lembaga, dan kebijakan—digunakan bukan untuk menciptakan keadilan, tetapi untuk mempertahankan dominasi segelintir elite atas mayoritas rakyat. Kekuasaan yang seharusnya bersifat amanah justru disalahgunakan demi kepentingan pribadi atau kelompok.
Plato, melalui pemikirannya tentang negara dan keadilan, menekankan bahwa masalah utama bukan terletak pada keberadaan negara itu sendiri, melainkan pada siapa yang menguasainya dan dengan tujuan apa kekuasaan tersebut dijalankan. Ketika pemimpin tidak memiliki kebijaksanaan dan moralitas, negara mudah tergelincir menjadi sarana penindasan yang tampak sah. Rakyat kemudian diposisikan sebagai objek kekuasaan, bukan sebagai subjek yang memiliki hak dan suara.
Kutipan ini menjadi pengingat bahwa negara yang adil membutuhkan pengawasan dan kesadaran kritis dari warganya. Tanpa kontrol moral dan partisipasi aktif masyarakat, negara dapat kehilangan tujuan utamanya, yaitu mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bersama. Pemikiran Plato ini tetap relevan hingga kini, karena ia mengajak kita untuk terus mempertanyakan: apakah negara melayani rakyat, atau rakyat yang justru melayani kepentingan segelintir penguasa.
Red


