Kepala desa mark-up bantuan, camat minta pungli, bupati gelapkan APBD - kita ulangi Tahun 1856.
Kepala desa mark-up bantuan, camat minta pungli, bupati gelapkan APBD - kita ulangi Tahun 1856.
Max Havelaar menangis melihat bupati Lebak menyuruh ratusan keluarga bekerja gratis di ladangnya. Tanpa makan. Tanpa upah. Mereka yang menolak dipenjara.
Itu bukan cerita fiksi - itu kenyataan yang membuat ibu-ibu menjual anaknya demi makanan.
.
Sistem Cultuurstelsel memaksa petani menanam kopi, tebu, indigo untuk Belanda.
Tapi yang lebih kejam: para kepala desa (dessahoofden) memungut pajak, menyimpan 30% untuk kantong mereka sendiri. Petani mati kelaparan, mereka kaya raya. Sound familiar?
.
Havelaar melaporkan ke Batavia. Hasilnya? Dia diberhentikan. "Jangan ganggu sistem", katanya. "Yang penting stabil, rakyat bisa diatur".
168 tahun berlalu, skripnya sama: pelapor dipersalahkan, pelaku dilindungi. Korupsi bukan masalah orangnya - sistemnya yang sakit.
.
Multatuli menulis: "Sulit menghancurkan kejahatan ini, karena itu sudah menjadi sifat bangsa itu sendiri." Dia salah.
Kita bukan bangsa korup - kita hanya terlalu lama percaya bahwa ini "tradisi". Tradisi yang harus mati.
.
Max Havelaar bukan cerita sejarah. Ini cermin. Setiap kali kepala desa mark-up bantuan, camat minta pungli, bupati gelapkan APBD - kita ulangi 1856.
Bedanya: sekarang kita tahu cerita ini. Dan kita yang menulis bab berikutnya. Mau lanjutkan tradisi, atau jadi Havelaar baru?
Irman


