BREAKING NEWS
Kredit Perdagangan Bank Kuningan Daftar Angsuran Kredit Bank Kuningan

Ketika PANCASILA jadi senjata " Tragedi TALANGSARI Jawa Tengah "

 


Ketika PANCASILA jadi senjata " Tragedi TALANGSARI Jawa Tengah "

Pada era Orde Baru, Pancasila bukan sekadar dasar negara. Di tangan kekuasaan Presiden Soeharto, ia menjelma menjadi alat politik yang ampuh untuk menekan siapa pun yang dianggap berbeda. Kelompok yang dicurigai meragukan Pancasila, terutama dari kalangan Islam, kerap dicap sebagai ancaman negara. Dalam iklim ketakutan itulah, tragedi Talangsari bermula.

Salah satu kelompok yang menjadi sasaran adalah Gerakan Usroh, komunitas Islam kecil yang berkembang di Jawa Tengah. Mereka dituding tidak sejalan dengan ideologi negara dan dicurigai ingin mengganti Pancasila dengan paham lain. Tuduhan itu memicu perburuan. Banyak anggotanya ditangkap, sementara sebagian lainnya melarikan diri hingga akhirnya tiba di Umbul Cihideung, Dusun Talangsari, Lampung.

Di tempat itu, mereka diterima oleh Warsidi, seorang guru mengaji sekaligus petani. Ia menyediakan tempat tinggal dan pekerjaan, serta membina kehidupan keagamaan yang sederhana. Namun, kebaikan itu justru berbalik menjadi petaka. Pemerintah menuding Warsidi membangun gerakan subversif dan menyebarkan ajaran sesat. Pengawasan ketat dilakukan, ketegangan pun kian meningkat.

Situasi memuncak ketika Komandan Koramil Way Jepara, Kapten Sutiman, tewas pada 6 Februari 1989. Kematian itu menjadi alasan pembenaran bagi operasi militer besar-besaran. Subuh 7 Februari 1989, pasukan Korem Garuda Hitam menyerbu Talangsari. Pondok-pondok dibakar, tembakan dilepaskan tanpa pandang bulu. Pria, perempuan, bahkan anak-anak menjadi korban.

Jumlah korban hingga kini tetap menjadi perdebatan. Militer menyebut puluhan, sementara saksi dan peneliti menyebut ratusan jiwa melayang. Tragedi Talangsari meninggalkan luka mendalam dan menjadi simbol kelam represi negara. Namun, kisah ini baru benar-benar berani disuarakan setelah Orde Baru runtuh, ketika korban akhirnya bisa bicara, meski keadilan belum sepenuhnya tiba.

Irman

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image