Aceh berdiri tegak tanpa pernah benar-benar ditaklukkan
Aceh berdiri tegak tanpa pernah benar-benar ditaklukkan
Aceh bukan sekadar wilayah di ujung barat Nusantara. Ia adalah bangsa besar yang ditempa oleh keberanian, iman, dan harga diri. Ketika bangsa-bangsa Eropa datang dengan meriam dan bendera kekuasaan, Aceh berdiri tegak tanpa pernah benar-benar ditaklukkan. Pada masa Sultan Iskandar Muda, Kesultanan Aceh mencapai puncak kejayaan, menguasai jalur strategis Selat Malaka, menjalin hubungan dengan Turki Utsmani, Persia, hingga Mughal di India.
Sejarah Aceh adalah kisah perlawanan tanpa henti. Dari Laksamana Malahayati yang memimpin armada Inong Bale—pasukan laut perempuan pertama di dunia—hingga Cut Nyak Din dan Cut Nyak Mutia yang bertempur di rimba tanpa gentar. Perempuan Aceh tidak dipinggirkan oleh sejarah; mereka berdiri di garis depan, mengangkat rencong demi kehormatan tanah air.
Tokoh seperti Teuku Umar dan Tengku Cik Ditiro menunjukkan bahwa perlawanan Aceh bukan hanya soal senjata, tetapi juga kecerdikan dan keyakinan. Bahkan setelah Indonesia merdeka, Aceh terus bersuara melawan ketidakadilan. Bagi Aceh, tunduk pada tirani adalah aib. Mereka ramah kepada tamu, tetapi tak pernah menyerahkan martabat. Dari masa ke masa, Aceh mengajarkan satu hal: kebebasan tidak diwariskan, ia diperjuangkan.
Red



